Bakdho Riyoyo & Bakdho Riyadi


“Kepareng matur dhumatheng mbah Dharmo, ingkang sepindah kawulo sak rencang ing mriki silaturahmi, ingkang kaping pindho kawulo sak rencang ngaturaken sedoyo kalepatan kulo sak rencang ingkang dipun sengojo dalah mboten dipun sengojo, mugi-mugi lantaran simbah saget dipun lebur ing dinten riyadi meniko. Ingkang kaping tigho, kawulo sak rencang nyuwun donga pangestu mugi-mugi cita-cita lan panggayuh kawulo sak rencang saget dipun ijabahi dening Allah swt lir ing sambi kolo, lantaran donga mbah Dharmo, amiinn”.

“Izinkanlah kami berkata kepada mbah Dharmo, yang pertama saya dan teman-teman di sini adalah untuk silaturahmi, yang kedua saya dan teman-teman mohon maaf atas segala kesalahan saya dan teman-teman baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, semoga melalui pemberian maaf simbah dapat terhapus di hari raya idul fitiri ini. Yang ketiga saya dan teman-teman mohon didoakan semoga cita-cita dan keinginan kami dikabulkan Allah tanpa ada halangan apapun melalui doa mbah Dharmo amiin”.

Sepenggal kalimat dalam bahasa jawa diatas tidak akan asing di telinga  wong jowo. Karena pada saat lebaran hari raya idul fitri, kalimat ini yang akan selalu digunakan dan diucapkan para anak-anak dan remaja bahkan orang dewasa  untuk meminta maaf kepada orang tua, kakek, nenek, tetangga dan handai taulan di kampung.

Dikampungku bahkan kalimat-kalimat ini diajarkan oleh para remaja masjid kepada anak-anak di pengajian anak-anak bulan ramadhan. Tujuannya supaya anak-anak bisa menghafal dengan bahasa yang baik kepada orang tua, gemar silaturahmi dan mudah memberi maaf dan minta maaf kepada sesama. Wal hasil setelah diajarkan kalimat tersebut anak-anak dari pertengahan puasa sudah membentuk kelompok silaturahmi hari raya lebaran. Setiap kelompok biasanya terdiri dari 3 sampai 6 orang. Mereka dari jam 08:00 pagi berkeliling silaturahmi dari rumah ke rumah sampai menjelang maghrib tiba.

Suasana seperti itu sangat berkesan buat saya dan anak-anak lain seusiaku. Selain suasananya yang akrab penuh kekeluargaan, setiap dijalan kami bertemu kawan dan handai taulan selalu bersalaman juga di setiap rumah warga kampung tersedia beraneka makanan dan kue. Tentu saja aku yang masih kecil kala itu juga menikmati beraneka hidangan makanan di hari lebaran. Bahkan kami juga senang selain banyak makanan kami juga punya uang dari pemberian orang tua dan sanak keluarga. Uang tersebut biasa disebut dengan uang pitrah. Kalau di tradisi imlek mungkin semacam angpau kali bro..ya?.

Bakdho riyoyo atau bakdho riyadi adalah hari lebaran atau hari raya idul fitri. Yang orang awam jawa menyebutnya dino bodho dalam tingkatan bahasa yang lebih rendah. “mbesok yen bodho aku tak nyang omahmu mas” (besok kalau lebaran aku mau main ke rumahmu mas), demikian orang yang seumur menyebut hari lebaran. Tetapi kalau untuk yang lebih tua atau orang yang dihormati orang jawa bolang bakdho riyoyo atau bakdho riyadi.

Tahun berganti tahun berlalu hingga akhirnya aku meninggalkan kampung halamanku untuk merantau ke kota. Setahun dua tahun masih tersisa kehangatan lebaran idul fitri hingga tak terasa 15 tahun berlalu sudah, kehangatan dan suasana penuh damai itu berlahan-lahan mulai pudar. Entah kenapa aku sulit menjawabnya. Ada beberapa sinyalemen yang menyebabkan kemeriahan dan rasa hangat dan indah menikmati lebaran di kampungku menjadi pudar  yaitu :

  1. Tradisi silaturahmi antar warga mulai hilang. Mereka lebih mementingkan silaturahmi ke saudara saja.
  2. Dahulu masih ada penggerak kaum remaja. Sekarang kaum remaja mayoritas merantau ke kota. Dan orang tua yang tinggal dikampung tidak mencontohkan hal ini kepada anak-anaknya. Maklum saja mereka terbatas pendidikan dan pengetahuan agamanya. Praktis di hari lebaran sepi tidak ada orang yang bersilaturahmi kecuali beberapa saja.
  3. Meningkatnya kesejahteraan dan tingkat ekonomi warga kampung. Sehingga dulu menikmati roti kaleng itu sangat enak sekali, tetapi sekarang mereka sudah biasa atau bosan. Jadilah rasa nikmat menikmati berbagai hidangan makanan di hari lebaran jadi berkurang jauh.
  4. Meningkatnya rasa egoisme dan hedonisme. Dulu para perantaupun kalau pulang masih muter-muter kampung ber-silaturahmi, sekarang mungkin karena dua factor itu mereka jadi jarang bersilaturahmi ke tetangga.

Empat hal itu mungkin yang menyebabkan rasa kehangatan, kenikmatan, kekeluargaan dalam merayakan hari raya cenderung menurun dari tahun ke tahun. Ohh.. bakdho riyoyo, ohh..bakdho riyadi kapan engkau akan kembali sperti dulu waktu aku masih kecil penuh cinta damai dan setiap orangberseri-seri. Bagaimana menurut anda?

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

One Response to Bakdho Riyoyo & Bakdho Riyadi

  1. Pingback: The Adventure Of Wong Fei Hung In Nusantara Archipelago « wikisopo

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: