Duel Satu Lawan Dua


“Hoooee…jadi begini caranya Lo pinter dan dapat ranking?”. Teriak Oji sambil mendorongku kuat. Dorongan kuatnya membuatku hampir terpelanting nyungsep dan jatuh. Menghadapi sikap ini aku langsung bereaksi melawan dan berteriak menantang Oji. “Heh…bercanda sih bercanda tapi jangan kelewatan dong, mau ngajak duel neh?” teriakku sedikit nyolot. Si Oji terlihat tak gentar menghadapi tantanganku. “Apaan Lo, berani duel sama gue ayo ke lapangan, pulang sekolah gue tunggu, ayo gue ladenin Lo”, kata Oji gak kalah nyolotnya dibandingkan aku. Sambil tangan kami berduel di udara, mencoba untuk mencakar dan memukul.

Teman-temanku yang lain terdiam sambil berjaga-jaga kalau-kalau duel benar-benar terjadi. Aku memang bukan anak badung atau anak yang sering berantem. Tetapi semenjak di SD dan di MTS ini pengaruhku lumayan kuat diantara teman antar kelas. Selain ranking 3 besar, aku juga mudah bergaul dengan siapa saja. Merokok dan kongkow dimana saja dan dengan siapa saja. Tatap mataku yang tajam, sangar, dan kejam membuat oarng berfikir dua kali untuk bikin masalah denganku. Praktis hal ini membuat teman-temanku segan. Apalagi aku sering kongkow dengan si Oji yang masih keponakan kepala madratsah waktu itu. Ditambah lagi aku dan Oji satu gengan di madratsah itu. Rupa-rupanya Oji sedikit syirik dengan prestasiku itu sehingga ia melampiaskan ketidaksukaannya hari itu. Jadilah sesama jagoan satu geng berantem.

Tak berapa lama bel masuk kelas berbunyi. Tanda istirahat pertama usai. Dan kami anak-anak madratsah kelas tiga akhir Mts Kipas harus masuk ke kelas lagi. Untuk mengerjakan soal tes akhir semester. Waktu itu aku memang sedang ujian akhir semester. Aku, Oji dan teman-teman lain yang satu kelas segera masuk mengerjakan soal ujian. Dalam benakku, “Aku tak habis pikir kenapa bisa berantem atau cekcok dengan Aji. Padahal Oji satu gengan denganku. Dan percecokan ini gara-gara hal yang sepele. Tapi memang Aji sepertinya benar-benar sirik dan serius mendorongku. Hal itu yang membuat adrenalinku tertantang untuk melawan”.

Sudahlah buat apa dipusingin masalah ini, aku menenangkan diri. Walaupun tidak ada rasa takut tapi aku berfikir juga bagaimana menghadapi Oji jika benar terjadi duel. Tetapi aku bukanlah pengecut yang suka lari dari perang. Dan aku bukan orang yang mudah lari dari kenyataan. Kata orang betawi ikan bawal ikan teri, ente jual ane beli. Kata tantangan telah aku lontarkan kepada Oji. Ketika Oji benar-benar nyolot dan marah dengan kata-kata awal pancinganku, ngajak duel neh?. Aku mengiyakan dengan jawaban yang mengancam, “Ok, tunggu bulan puasa berakhir”.

Ya waktu itu, ketika aku hampir duel dengan Oji memang pada saat bulan puasa. Seperti muslim lain di seluruh dunia, akupun menjalankan ibadah puasa. Aku bahkan menjalankan dengan khusuk di masa sekolah ini. Dan pelajaran agama di Madratsah ini membimbingku jauh menjadi lebih ‘alim dibandingkan sebelumnya. Dan nilai-nilai luhur, moral dan agama aku dapatkan dengan baik. Itulah sebabnya ketika ada tantangan duel datang, aku jawab sehabis puasa saja. Sebenarnya niat hati ingin mengulur, menghindar dan mengatakan, maaf saya sedang puasa. Tetapi yang keluar malah, “ntar sehabis bulan puasa gue ladenin duel sama elo Oji”. Yach taqdir…tak bisa kuhindari.

Teet…teet…teet bel kelas tanda sekolah usai berbunyi. Semua anak-anak yang satu kelas denganku berhambur keluar. Tak terkecuali aku. Namun suasana sedikit beda di hari itu. Udara dan waktu terasa kaku. Tak ada teman yang mendekatiku, bahkan sampai teman dekatku si Mercon, been knoby, teman sekampung atau yang lain. Mungkin mereka tahu. Aku sedang menabuh genderang perang. Dan mereka tak ingin terlibat masalah. Aku maklumi itu walau hati bergumam dongkol,”Brengsek, tak ada teman sejati yang mengerti di saat suka dan duka. Tak ada yang berani menyatakan bergabung. Di saat lapang atau di saat ada masalah. Semuanya kabur ketika aku ada masalah. Satu geng tai ledix..!!”. Benar juga sih..? buat apa ikutan berantem kalau tak ada hasil yang diperoleh???

Tatapan mataku menyapu ke segala arah. Menyelidik situasi yang ada. Walau tak kulihat Oji atau temannya. Pandangan mataku sedkit redup terhalang rasa kecut yang mengusik keberanianku. Aku langsung menuju tempat parkir. Tempat dimana sepedaku (sepeda ontel) dan sepeda teman-temanku ditambatkan disana. Aku mengeluarkan sepeda dan menyusuri jalan yang biasa aku gunakan setiap hari. Lama kukayuh sepeda sambil waspada. Tak terlihat olehku pergerakkan si Oji.

Aku terus mengayuh sepeda jengki-ku. Hingga tiba di belokkan ke kiri sebuah pasar menuju arah pulang dari sekolah. Terdengar olehku teriakkan,“Hoee tunggu”. Walau aku tahu itu bukan suara Oji, tapi aku yakin ini pasti ada apa-apanya dengan perseteruanku tadi siang. Benar dugaanku. Suara itu adalah suara Opik yang telah berboncengan dengan Oji. Opik sebenarnya masih teman dekat dan satu gengan denganku pula. Tapi entah kenapa dia memihak si Oji. Opik bisa dibilang rumahnya sangat dekat dengan sekolahan. Dan orang mengatakan jagoan yang punya kandang. Dibenakku berkata sedikit bingung,”apa nih yang akan terjadi?, ahh..pokoknya aku hadapi semua saja. Ya biar seorang diri. Aku nggak takut”. Nyaliku mencoba memberanikan diri.

Mendengar teriakkan Opik aku memperlambat kecepatan sepedaku. Sambil menoleh kebelakang aku turun dari sepeda dan menarik tuas standar sepeda. Namun dalam sekejab Oji dan Opik tiba di belakangku. Aku tak sempat mencari posisi yang aman. Begitu aku balik badan si Oji sudah memburu dengan bogem kanannya. Bogem itu kena tepat di pipi bawah mata. Sementara Opik memutar di belakangku. Aku tak sempat menangkis bogem mentah Oji.  Namun ketika Oji mau melancarkan tendangan kaki kanannya, aku berhasil menahan tendangan itu dan menangkap kakinya. Oji kelimpungan hilang keseimbangan. Dengan mudah aku mendorong dan membalikkan oji ke belakang. Tak ayal lagi Oji jatuh tersungkur ke belakang dengan pantat mendarat lebih dulu. Yang lebih mantap lagi tanah jalan tempat mendarat pantat Oji itu adalah tanah berbatu. Jalan itu dulu diurug dengan batu cadas putih. Konon batu cadas putih itu bekas lintasan rel kereta lori zaman belanda.

Aku tak bisa bayangkan betapa sakitnya pantat si Oji yang jatuh menghantam batu jalan itu. Oji diam tak bergerak sesaat setelah jatuh. Kalau saja aku tidak kasihan sama oji aku sudah menendang kemaluannya. Atau aku seret lagi kakinya di atas bebatuan itu. Pokoknya posisiku diatas angin untuk menghajar Oji. Namun hatiku masih hidup. Aku masih punya belas kasihan dan hati nurani. Dan yang jelas aku masih tak percaya, setelah berteman selama 2 tahun lebih dengan keakraban yang intim, kenapa aku bisa berkelahi dengan Oji?. Benarkah kejadian ini ataukah hanya mimpi. Dalam perkelahian itu aku masih termangu-mangu. Dan praktis aku tak megeluarkan banyak tenaga dan kekuatan. Aku berkelahi setengah hati.

Sementara itu, disaat yang sama Opik yang berlari memutar di belakangku langsung menyerang. Opik menghujani kepala dan tubuhku dengan pukulan dan tendangan membabi buta. Bahkan aku tak ingat lagi entah berapa kali pukulan dan tendangan Opik yang berhasil mendarat di tubuhku. Tapi bro..semua tendangan Opik nggak ada yang berasa sakit. Kecuali pukulan Oji yang mendarat di bawah mata. Aku bersyukur pukulan oji itu nggak membuat bengkak atau merah. Sehingga terkesan aku kebal pukulan hehehe…suro diro joyo jayaningrat lebur dening pangastuti. Mungkin semua ini pertolongan Allah SWT jua sehingga aku selamat dari pengeroyokan itu.

Perkelahian duel satu lawan dua itu berlangsung sangat cepat. Bahkan kami bertiga tak sempat mengeluarkan kata-kata. Oji yang mampu berdiri terlihat menahan sakit. Dia tak segarang waktu awal tadi. Bersamaan dengan meredanya serangan dari Oji dan Opik, orang-orang di pasar mulai keluar dan berteriak melerai. Melihat banyak orang datang Opik dan Oji langsung kabur. Orang-orang pasar menanyakan keadaanku. Aku menjawab,” Alhamdulilah tidak apa-apa bu”. Salah seorang ibu di pasar itu memberondongku dengan pertanyaan,”siapa tadi dik, teman sekolah di Mts, orang mana, anak siapa?. Sambil bicara kesana kemari ala ibu-ibu yang mengisyaratkan miris dan kasihan mengelus dada.

Pertanyaan si ibu tadi aku jawab dan aku iyakan. Dan menurutku ini kesempatanku menyerang Oji dari sisi yang lain. Kepada si ibu tadi aku kasih tahu. Kalau yang menyerangku adalah keponakan kepala madratsah tempat dimana aku sekolah. Oji ternyata juga anak seorang ibu guru yang kenal dengan ibu yang di pasar tadi. Sementara Opik adalah anak salah satu guruku di madratsah. Mendengar jawabanku si ibu tadi langsung setengah menjerit histeris,” Ooo keponakan pak ini…anaknya bu ini, dan yang satu anaknya pak ini? Kontan saja orang sepasar mungkin mendengar semua. Pasti dengan terdengarya berita perkelahian itu oleh pihak keluarga, Oji dan Opik pasti tak akan berkutik hehehe…cerdik?. Kamu tahu kenapa aku pakai cara itu bro?. Karena setelah duel nggak ada teman yang berani mendekat seakrab dulu. Dan aku pastikan gak ada yang berani membantuku. Praktis aku seorang diri mengahdapinya. Laziiizzz…..

Setelah clear suasana di pasar aku ngeloyor dengan sepedaku. Di tengah perjalanan aku di dekati salah satu pegawai tata usaha sekolahku. Si bapak pegawai TU ngajak ngobrol. Aku sudah lupa nama si bapak itu. Dan dia menawarkan menempuh jalan yang berbeda. Mungkin si bapak TU masih kawatir dan was-was kalau aku diserang lagi atau dicegat ditengah jalan. Melenggang seorang diri tanpa ada teman yang berani membantu membuat aku menerima tawaran bapak TU. Aku akhirnya pulang melewati jalan yang tidak biasa aku gunakan. Sambil sesekali meringis merasakan nyeri di tulang pelupuk mata yang mulai keluar.

Sesampai dirumah tak ada yang tahu kalau aku habis duel. Aku langsung mengambil kaca cermin dan memperhatikan wajahku. Apakah ada yang memar atau tidak. Tidak ada yang memar atau benjol. Tetapi ada sedikit rasa nyeri yang mengganjal di bawah mata. Aku senang karena aku gak akan terlihat kalah oleh musuhku Oji dan Opik. Teman-teman sekampung akhirnya tahu juga kalau aku habis duel. Mereka menawarkan,”Gimana kalau kita serang musuh ente”. Begitu mereka simpati menawarkan. Aku tahu mereka berupaya menenangkan aku. Jagoan geng di kampungku juga tumben-tumben ada saat itu ke rumahku. Banyak nasehat yang diberikan kepadaku dalam menghadapi duel. “Yang penting bro hindari wajah kalau lagi duel”. Demikian salah satu sarannya.

Keesokan harinya aku kembali masuk ke sekolah dengan sedikit was-was. Apakah Oji dan Opik akan menyerang kembali?. Pertanyaan itu ada dalam benakku. Aku masuk kelas dengan diam tanpa ada senyuman seperti tak terjadi sesuatu. Padahal udara dan waktu serasa bagai atmosfer kaku. Mungkin juga apa yang kurasakan dirasakan juga oleh Oji dan Opik. Aku sedikit merasa menang karena walau dikeroyok dua orang tapi aku seperti tak luka sedikitpun. Sebaliknya Oji sudah pasti merasakan nyeri dan ngilu tulang pantatnya. Karena pantat itu membentur batu cadas putih yang keras. Aku lihat mereka berdua juga tertunduk diam mengisyaratkan kekalahan. Aku segera mengerjakan soal-soal tes ujian semester.

Menjelang usai mengerjakan soal, aku, Oji dan Opik dipanggil ke kantor oleh kepala sekolah. Yah..pasti ini soal yang kemarin kami berantem. Berita kami duel ternyata sudah sampai ke telinga kepala sekolah. Benar saja ketika kami sampai di kantor, kepala sekolah sudah menunggu. Kami tak bisa mengelak pertanyaan kepala sekolah apakah kami bertiga berantem?. Ujung-ujungnya kami diberi nasehat dan dianjurkan untuk berdamai. Dengan sedikit terpaksa kami akhirnya berjabat tangan.

Namun yang tidak aku sangka-sangka, ditengah nasehat kepala sekolah terselip sindiran bahwa aku suka mengambil lembaran tengah buku kosong untuk ulangan/latihan soal dari beberapa siswi sekolah. Memang sih semua itu aku lakukan. Tetapi musuhku ini si Oji dan Opik ini juga sering melakukan. Bahkan mereka ini yang mula-mula melakukan hal ini. Aku jadi tak habis fikir. Siapa ya yang melapor ke kepala sekolah. Yang tak enak lagi pengambilan kertas para siswi ini seakan-akan hanya aku yang melakukannya. Padahal tidak hanya aku saja. Huh sebel dan dongkol. Ya sudahlah..buat apa dipungkiri aku tak bisa mengelak. Setelah jabat tangan itu aku langsung keluar dari kantor menunggu pengumuman dan waktu untuk pulang sekolah.

Sampai ditulis kisah ini aku telah berbaikan dengan Opik (5-6 tahun setelah lulus dari MTs). Karena waktu itu Opik dengan kawans satu angkatan (mbarjo & ayub) datang mengajakku untuk mengadakan reuni. Aku sih senang juga dengan kedatangan teman-teman waktu Mts. Opik dan aku sedikit speak-speak seperti tak pernah terjadi masalah dengan kami waktu dulu. Hingga 3 kali kami mengadakan reuni, I di pemancingan Janti klaten, II Rm Bu mayar ngaran Jl Jogja-Solo dan III di Bakso kepala sapi klaten. Hanya si Oji yang gak pernah terdengar kabarnya.

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: