Saryo Anak Durhaka (i)


Di sebuah kampung kecil yang tenang hiduplah seorang anak bernama Saryo. Saryo dikenal oleh teman-teman sebayanya sebagai anak nakal, jahil dan suka bohong (walaupun bohong yang tidak/belum berhubungan dengan kerugian materi). Selain nakal, jahil dan bohong Saryo juga rada belet bin bahlul otaknya. Terbukti selama di sekolah dasar Saryo beberapa kali tinggal kelas. Plus kalau di masjid lagi ngaji pasti sering bikin onar dan gaduh. Praktis dengan banyak kejelekan itu saryo kurang disenangi oleh banyak teman-temanya.

Entah berapa kali Saryo bikin ulah dengan kebohongannya aku sampai nggak bisa mengingatnya. Hanya satu cerita bohong yang saya ingat dari Saryo. Waktu itu bulan puasa bulan Ramadhan. Setiap sore di bulan itu selalu ada pedagang es keliling. Pedagang itu namanya pak Yono. Yang menjual es gosrok ( es yang diparut ditambahkan syrup) dengan rasa yang lezat apalagi kalau ditaburi dengan roti tawar / roti manis semakin membuat perut jadi manja. Dalam berdagang pak Yono menggunakan penerangan dagangan yaitu dengan lentera yang bahan bakarnya dari batu karbit. Maklum di kampung biasanya menggunakan bohlam bukan neon untuk penerangan, jadi jalan-jalan terlihat remang-remang.

Nah selagi kumpul jajan es gosroknya pak Yono sore itu selepas maghrib  menunggu sholat taraweh, si Saryo nyelethuk,”Tuh hebat lentera pak Yono nggak akan mati, nyala terus”. Anak-anak yang lain menimpali,”Kata siapa lu yo, lentera ini gak akan mati?”. Yang lain mengatakan,” Lentera ini bisa mati kalau karbitnya habis”. Perdebatan seru terjadi diantara anak-anak yang sebaya itu. Padahal perdebatan itu bukan hal yang serius. Mungkin anak-anak itu terlanjur kesel dan tak percaya sama si Saryo.

Dan sialnya lagi menanggapi berondongan pertanyaan dan jawaban dari temen-temennya si Saryo menjawab,”Iya bener lentera itu nggak akan mati, ini kan kata si Wiro”. Si Saryo membela diri dengan meminjam nama orang padahal omongan itu belum tentu si Wiro yang ngomong. Dan benar saja pucuk di cinta ulam tiba. Baru saja namanya dipakai/ difitnah kecil, si Wiro datang mendekati kerumunan karena juga mau beli es gosroknya pak Yono.

Kontan saja anak-anak yang nggak suka dengan Saryo langsung mengadu apa yang dikatakan Saryo barusan.”Bener Wiro kamu pernah bilang kalau lentera pak Yono nggak bisa mati. Tuh si Saryo tadi yang bilang”. Mengetahui dirinya difitnah kecil-kecilan si Wiro marah dan melabrak si Saryo. “Yo kapan gue ngomong seperti itu, kalau ngomong yang bener lu” kata si Wiro sambil njorogin si Saryo. Anak-anak yang lain menyoraki dan ikut noel kepala si Saryo. Awalnya Saryo cengengesan dan ketawa-ketiwi yang secara tidak langsung mengaku salah tapi tidak segera minta maaf. Dan setelah dikeroyok hampir semua anak-anak yang ada, Saryo akhirnya menangis keras dan meraung-raung.

Anak-anak bubar ke masjid karena takut bonyok Saryo pasti mendengar dan keluar menjemput Saryo. Pak Yono pun sudah dari tadi berlalu dari kerumunan anak-anak ini, menghampiri pelanggan yang lain yang sudah menunggu. Saya yang tidak ikut nyolek Saryo ( tetapi ikut menyoraki saja) tidak ikut lari. Tapi duduk melihat Saryo diambil ibunya sambil saya menghabiskan es gosrok pak Yono. Kalau ingat peristiwa itu suka kasihan juga melihat Saryo, tapi melihat kelakuanya yang nggak berubah kadang gemes juga.

Pernah satu waktu Saryo main dengan saya dan si Gito. Kami bertiga bermain ngobrol dan bercanda. Waktu itu saya memang datang belakangan. Ketika ngobrol kami bertiga sedang berada dibibir jegongan (lubang ) pembakaran sampah. Obrolan juga seputar sampah yang dibakar. Bahkan kitapun main sampah-sampah bakar yang lagi membara besar itu. Dasar si Saryo yang usil tiba-tiba saja dia mendorong Gito ke lubang pembakaran sampah itu. Kontan kaki kanan Gito nyungsep masuk kedalam bakaran sampah sedalam mata kaki.

Gito nggak nangis tetapi langsung masuk kerumah menahan sakit. Aku yang masih kecil belum bisa membayangkan sakit Gito dan nggak tahu harus berbuat apa. Ternyata selang seminggu aku baru mendengar kaki Gito yang kecebur pembakaran sampah itu melepuh sampai mata kaki saking panasnya. Aku hanya terbengong saja melihat kaki Gito seperti habis terbakar hebat. Aku nggak menyangka kejadian itu akan membuat kaki Gito melepuh hebat. Untungnya keluarga Gito orang yang cukup kaya dan tidak temperamen seperti bonyok si Saryo. Jadi nggak terjadi percecokan antara dua keluarga yang bersebelahan itu.

Setelah lulus SD dengan tinggal kelas beberapa kali, Saryo masuk SMP. Di SMP pun saryo tinggal kelas beberapa kali. Hingga waktu itu aku sudah merantau ke kota. Saryo masih menunggu kelulusannya dari SMP. Setelah beberapa kali tinggal kelas di smp akhirnya Saryo lulus juga. Setelah lulus SMP Saryo juga merantau ke Jakarta ikut dengan kakaknya. Terdengar kabar di perantauan Saryo mulai kenal dengan miras. Dan sedihnya lagi Saryo kecelakaan di pabrik yang menyebabkan jari-jari tangan Saryo ada beberapa yang putus.

Setelah sembuh Saryo dipindah ke bagian ADM. Entah bagaimana cerita pastinya setelah di ADM Saryo kemudian di PHK dan mendapat pesangon. Tak berselang lama Saryo minta kawin. Karna mungkin kasihan bonyok Saryo menikahkan dengan wanita pilihannya di rantau. Setelah kawin Saryo pulang kampung dengan istrinya. Di kampung Saryo malah mabuk-mabukan dan bergaul dengan anak-anak yang doyan miras. Tak hanya itu Saryo minta dibelikan motor kepada bokapnya. Dan mengancam akan membakar rumah kalau tidak dibelikan rumah. Karena sayang atau takut atau kasihan dengan Saryo yang habis kecelakaan, bokap Saryo akhirnya membelikan sepeda motor.

Setelah dibelikan motor, Saryo suka jalan-jalan dan masih gaul dengan anak-anak yang doyan miras. Dan Saryopun pasti juga suka mabok. Akhirnya hari naas itu tiba. Ketika sedang mengendarai motor dengan berboncengan Saryo tabrakan. Ada yang bilang keduanya masih dalam keadaan mabuk. Keduanya akhirnya meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un

Saryo yang nakal, badung, jahil, suka bohong, suka mencelakai teman, suka mabok dan berani kepada kedua orang tua itu meninggal dunia. Dia telah mendapatkan balasan di dunia ini. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Aminn….

Inilah realita hidup ini

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

One Response to Saryo Anak Durhaka (i)

  1. Pingback: The Adventure Of Wong Fei Hung In Nusantara Archipelago « wikisopo

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: