Pengalaman Melihat Tuyul


Kebayang nggak ya? Apa iya kita bisa ngelihat hal-hal ghoib? Wallahu a’lam. Tetapi bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Dan mengenai hal ghoib kita mesti percaya sebagai rukun iman. Dan dalam ilmu metafisika diyakini bahwa dunia ini terdiri dari dua dunia yakni : dunia nyata dan dunia lain (supranatural).

Sayapun bukan orang yang bisa apalagi punya indra ke enam, indigo ataupu ilmu-ilmu ghoib. Semua ini mungkin hanya kebetulan. Mungkin Allah ingin menunjukkan kebesarannya kepada hambanya. Dan itulah yang saya yakini sampai saat ini. Mungkin juga pintu ghoib dibukakan Allah SWT, atau secara alami dan otomatis mata ghoib itu tersingkap karena ada sesuatu faktor alamiah di dalam diri sesorang yang mendorongnya sebagai Qodratnya. Dan kejadian itu seumur-umur baru sekali saya alami.

Ketika itu masih dalam pengejaran cinta Ipeh. Aku sedang menunggu di salah satu rumah sakit di Jakarta. Tiga hari dua malam aku berjaga sekedar memastikan tidak terjadi sesuatu apapun dgn Ipeh dan mensuplai apa yang diperlukan Ipeh. Semua itu aku lakukan ketika tiba-tiba Ipeh menelephone jumat sore saat aku masih kuliah waktu itu. Dan sabtu pagi aku putuskan berangkat ke rumah sakit untuk membesok dan menjaga Ipeh.

Aku sudah lupa kejadian itu apa terjadi pada malam minggu atau malam senin. Tapi kemungkinan malam senin. Kala itu Ipeh memanggilku dan minta untuk dibelikan es krim. Karena Ipeh belum bisa banyak makan aneka makanan setelah operasi itu. Sekalian juga Ipeh minta air mineral untuk persediaan.

Aku langsung meluncur keluar rumah sakit yang dijaga oleh satpam. Dengan sedikit speak-speak saya bisa meyakinkan satpam dan bisa keluar. Aku kemudian menuju pemukiman kota terdekat dari rumah sakit itu. Sasaranku adalah mini market terdekat. Walhasil masih ada mini market yang buka pada jam 22:00 wib saat itu. Aku merasa lega melihat mini market itu. Tetapi semakin mendekati mini market itu kurang lebih 50 m lagi, terlihat olehku 5-6 anak-anak dengan postur tubuh yang sama sedang bermain di depan mini market. Anak-anak itu menggunakan kolor warna biru semua dan tanpa memakai baju.

Tidak ada perasaan takut, merinding ataupun bergidik saat itu. Yang justru aku takutkan ketika melihat anak-anak itu adalah jangan-jangan anak-anak ini gelandangan dari kawasan bronk yang sengaja disuruh untuk membuat masalah. Dan setelah ada masalah baru jeger-jeger dan pentolan-pentolannya keluar untuk memalak dan lain sebagainya. Satu pertanyaan dalam hati kecilku adalah siapa anak-anak ini semua? Kenapa malam-malam begini tanpa baju dan masih main di jalanan. Pertanyaan itu aku pendam dan aku putuskan untuk bertanya kepada kasir mini market nanti.

Menjelang mau masuk mini market, aku lihat 2 (dua) orang anak yang sejenis yang bermain di depan mini market, sedang duduk di samping kiri dan samping kanan pintu mini market. Dan ketika aku ditengah pintu mini market terdengar dari belakang suara meminta uang,”Om minta uangnya dong?”. Tanpa banyak tanya dan aku pikir paling anak-anak yang disamping pintu mini market itu yang meminta. Aku langsung mengulurkan koin 1000an. Dan aku sudah nggak ingat apakah tangan anak itu atau bukan yang menerimanya.

Di dalam mini market aku semakin penasaran dengan pertanyaan hati kecilku,”Siapa anak-anak ini?”. Pertanyaan itu semakin berkecamuk dalam pikiranku. Aku berputar-putar tak jelas di dalam mini market itu untuk mencari barang belanjaanku. Setelah mendapatkan barang belanjaan es krim, air mineral dan beberapa snack, aku langsung menuju kasir. Ada satu atau dua orang yang mengantri. Aku sebenarnya ingin sekali bertanya kepada kasir tentang siapa anak-anak ini. Tetapi lidahku seperti kelu dan kasir juga seperti mati. Orang-orang yang mengantri juga serasa orang mati, tanpa senyum dan pancaran cahaya bahagia sebagai manusia.

Belanjaan sudah aku bayar. Pertanyaan tidak jadi aku lontarkan ke kasir. Walaupun pertanyaan itu sangat mengusik hatiku, tetapi kemudian aku berfikir,”Ah dikota ini. Ngapain juga peduli dengan orang lain, toh aku juga lagi ada urusan dengan Ipeh”. Kemudian aku melenggang keluar. Sekitar 15-20 langkah dari mini market terdengar lagi suara anak-anak meminta uang,”Om-om minta uang”. Aku yang tadi sudah memberikan uang koin 1000an menjawab,”Udah, kan tadi sudah dikasih sama om”. Jawabku tanpa memperhatikan siapa yang minta, dimana orangnya, bagaimana orangnya dan ada disebelah mana itu orang? Aku berlalu saja mengingat waktu itu sudah cukup malam (pukul 22 lewat).

Tetapi tiba-tiba baru saja 3-5 langkah dari suara anak-anak yang meminta uang tadi, kakiku serasa tersandung lebih tepatnya terasa dijegal dan tanganku serasa ditepok dengan keras. Praktis saja aku hampir terjungkal dan barang belanjaanku jatuh berantakan semua. Spontan aku ucapkan,”Astaghfirullahal ‘adzim. Inna lillahi wa inna ilaihi turja’un”, dan kemudian membaca sholawat. Setelah itu entah kemana anak-anak itu aku tidak begitu memperhatikan. Dan lagi pula aku focus pada belanjaanku yang berantakan dan berfikir untuk segera pulang ke rumah sakit agar tidak terlalu malam. Dan agar security juga bisa mengenal karna belum ganti shift.

Sepanjang perjalanan aku hanya teringat pertanyaan siapa anak-anak itu? Tanpa bisa mengungkap rahasia anak-anak itu. Mungkin aku dalam kondisi setengah sadar dan fikiran kosong yang membuat aku jadi tanpa kontrol. Setelah sampai dirumah sakit dan berhasil melewati pemeriksaan security aku langsung memberikan es krim dan air mineral ke Ipeh.

Selanjutanya aku bergabung dengan beberapa penunggu pasien yang sudah aku kenal. Salah satunya si engkong dari betawi. Yang hobinya main gaple. Aku langsung gabung dan tenggelam dengan permainan gaple dan melupakan sejenak kejadian di mini market itu. Baru setelah beberapa minggu dari kejadian itu aku mulai berfikir, jangan-jangan anak-anak yang aku temui di mini market malam itu adalah tuyul…? Wallahu a’lam, allahu akbar…

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

One Response to Pengalaman Melihat Tuyul

  1. Pingback: The Adventure Of Wong Fei Hung In Nusantara Archipelago « wikisopo

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: