IPEH : Kisah Cinta Sejati Tak Sampai (i)


Ingat definisi cinta sejati disini. Ipeh adalah cinta sejati Wongbru menurut definisi ini. Menurutku manusia adalah ibarat wayang-wayang yang sedang menjalani peran dari sebuah cerita yang dimainkan oleh sang dalang. Mengingat kisah ini ibarat melakoni sepenggal kisah dalam sinetron. Haru, biru, seru, lucu tetapi benar-benar terjadi dan dialami Wongbru. Dan tergantung kita mampukah bangkit ataukah akan tenggelam tak berdaya seperti wayang dalam genggaman sang dalang. Hanya sedikit dari kita, manusia yang mengambil dari pelajaran dan perjalanan hidupnya. Semoga aku termasuk orang-orang bisa mengambil nilai dan hikmah dari perjalanan ini. Awal kisah…Wongbru mempunyai teman di perantauan sebut saja Namanya Awang. Wongbru dan Awang berasal dari dua kota yang berbeda. Mereka bertemu di perantauan karena satu tempat kerja di PT. Gondal-Gadul. Awang pernah menjalin kisah cinta semasa sekolah di kota asalnya dengan Ipeh.

Setelah sekian lama dan sama-sama merantau Awang dan Ipeh pernah bertemu di perantauan. Setelah pertemuan pertama di perantauan itu, mereka kembali berpisah untuk waktu yang cukup lama. Ipeh waktu itu dalam kondisi mudah dihubungi karena bekerja dikantor. Sedangkan Awang meninggalkan no. telp kos-kosan ku sebagai media komunikasi, dan kalau mau ada pesan dari Ipeh diminta menghubungi Wongbru. Awang pernah berpesan jika Ipeh telepon dan menanyakan tentang perihal Awang supaya dijawab bahwa Awang belum punya pacar. Padahal aku tahu Awang tengah menjalin asmara dengan Lucyes. Karena rasa persahabatan dan sikap solider Wongbru meng-iyakan permintaan Awang.

Telepon kos-kosan berdering menanyakan Wongbru. Buru-buru Wongbru menghampiri meja telepon. Ternyata Ipeh yang nelepon. Benar saja dia menanyakan kondisi Awang, “Wongbru apa si Awang punya pacar di sana ya?. Seperti permintaan Awang, Wongbru menjawab, “nggak tahu ya, sepertinya sih nggak punya pacar tuh”. Wongbru menjawab dengan samar, nggak jelas dan sengaja menutupi kondisi yang sebenarnya. “Ya udah Wongbru makasih infonya ya”, demikian suara Ipeh mengakhiri percakapan telepon.

Mungkin penasaran dengan kondisi sebenarnya dari Awang, Ipeh kembali menelepon selang beberapa bulan ke kos-kosan Wongbru. Kali ini Ipeh memakai siasat jitu yang membuat Wongbru nggak berkutik dan harus berkata jujur dengan pertanyaan Ipeh perihal apakah Awang sudah punya pacar di kota sana. “Wongbru anggap saja aku ini adikmu, apakah kamu tega adikmu dipermainkan oleh seorang cowok?”. Dalam benak pikiran Wongbru berkecamuk antara apakah dijawab dengan jujur atau terus berbohong.

Dengan sangat berat Wongbru akhirnya mengatakan yang sebenarnya. Wongbru membayangkan jika hal itu benar terjadi dan dialami oleh adiknya, tentu saja Wongbru tidak akan terima. “Tepat dugaanku, dia sudah berbohong padaku”, Ipeh berkata diujung telepon sana. Kali ketiga dan nggak diduga Ipeh menelepon lagi ke kos-kosan. Ipeh menelepon sekedar say hello kepada Wongbru, “Bagaimana kabarnya?”. Percakapan di telepon berlanjut sampai akhirnya Wongbru dan Ipeh saling penasaran seperti apa dan bagaimana Ipeh dan begitu sebaliknya terhadap Wongbru. Hingga akhirnya Wongbru dan Ipeh berjanji untuk beremu di suatu tempat yang telah mereka sepakati.

Dalam benak Wongbru ada kekawatiran sebenarnya, jangan-jangan setelah ketemu nanti tertarik dan jatuh cinta, masak sih Wongbru pacaran sama mantannya sobat karib..?? atau jangan-jangan ada permainan antara Awang dan Ipeh untuk mempermainkan Wongbru. Ahhhk… Wongbru yang kala itu juga jomblo penasaran dan ingin mengenal dunia baru dan teman baru tak begitu risau dengan kondisi itu. Dia menjalani semua kehidupan ini seperti air mengalir saja. Perkara tertarik itu urusan belakang, begitu kira-kira Wongbru akhirnya memutuskan dan membulatkan tekad untuk bertemu dengan Ipeh.

Tepat di hari yang telah disepakati oleh Wongbru dan Ipeh. Wongbru bergegas menaiki bus menuju kota tempat mereka akan bertemu dengan Ipeh. Dua jam perjalanan telah berlalu dan sampailah Wongbru di tempat yang dituju. Wongbru turun dari bus dan jalan kaki ke lokasi yang disepakati, sebuah mall kota yang cukup ramai dan bising dengan beraneka suara yang berdenting hingar-bingar.

Wongbru segera mengambil HP secondnya yang imut dan segera mengontek Ipeh. “ Sebentar lagi saya sampai Wongbru”, begitu sms yang dikirim Ipeh. “aku sudah sampai kamu pakai baju apa?”si Ipeh kembali SMS. Demikian kontak SMS berlanjut Wongbru masih ingat kala itu Ipeh menggunakan baju warna hitam, dan Wongbru menggunakan baju kotak-kotak biru dengan kombinasi motif hitam putih.

Ipeh kembali mengirim pesan untuk Wongbru agar naik ke lantai 3 mall tersebut. Dan akhirnya di tengah tangga escalator menuju lantai 3 wongbru menatap ke atas mencari sosok dengan cirri-ciri seperti yang Ipeh sebutkan. Dan benar Ipeh telah menunggu diujung tangga escalator dan segera menyambutku dengan jabat tangan. Alamak… sepertinya nggak bisa menghindar dari jeratan cintanya, demikian hati kecil Wongbru berbisik. Dan benar Wongbru akhirnya benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Wongbru dan Ipeh ngobrol di sebuah resto cepat saji sambil menikmati hidangan yang telah dipesan.

Sesekali Ipeh menanyakan tentang Awang kepada Wongbru, tetapi mereka seperti mafhum bahwa Awang sudah senang dengan pacarnya jadi mungkin nggak perlu dipermasalahkan. Hingga akhirnya Ipeh menawarkan kepada Wongbru untuk mampir ke kos-kosanya. Wongbru akhirnya mampir disore harinya sambil berbarengan akan pulang ke kota asalnya di kota tanah rantau sana. Wongbru pun menawarkan kepada Ipeh kapan-kapan kalau ada waktu agar main ke tempatnya. Wongbru benar-benar kesengsem dengan Ipeh pada pertemuan dan pandangan pertamanya. Hal ini karena Ipeh typenya wongbru banget. Style dan wajah Ipeh ibarat kaum lebay bilang…ini cewek gue banget.

Hari yang dinantipun datang, Ipeh akan berkunjung ke kos-kosan Wongbru. Tak menyia-nyiakan kesempatan Wongbru menyambutnya dengan suka cita. Bahkan kalau nggak salah ingat Ipeh minta dijemput dengan manja di terminal karena belum tahu arah ke tempat tujuan. Wongbru akhirnya menjemput Ipeh di terminal. Menjelang dzuhur Wongbru dan Ipeh tiba di kos-kosan.

Setelah ngobrol dan rehat sebentar Wongbru mengajak Ipeh bermain ke sebuah taman wisata yang terdekat dengan dikotanya. Wongbru menikmati kebersamaan mereka dengan Ipeh di taman wisata itu. Hingga sore tiba-tiba menjelang sudah. Waktunya untuk pulang dikarenakan hari juga mendung pertanda hujan. Wongbru mengantar Ipeh sampai ke tempat halte transit bus kota tercepat untuk pulang.

Setelah pertemuan keduanya dengan Ipeh, Wongbru tak bisa melupakan bayangan wajah Ipeh. Bahkan takut kehilangan Ipeh. Makanya selang beberapa hari setelah pertemuan itu Wongbru menyatakan cintanya kepada Ipeh. Walaupun Wongbru menyatakannya hanya lewat telepon. Ipeh hanya menjawab tak serius, “baguslah kalau suka daripada benci”. Belum ada kepastian, obrolan telepon kembali datar lagi. Maklum Wongbru bukan type cowok perayu yang ulung.

Hari-hari setelah itu Wongbru sering main ke tempat Ipeh di kotanya yang lama perjalanan dari tempat Wongbru 2 jam perjalanan bahkan sampai 3 jam kalau perjalanan macet. Wongbru mencari jawaban dari Ipeh. Wongbru tetap sabar setia menunggu jawaban Ipeh. Walau terkadang agak sedikit memaksa namun jawaban Ipeh tak kunjung ia dapatkan. Hingga suatu ketika Wongbru memutuskan untuk tidak bertemu lagi dengan Ipeh.

Wongbru marah di telepon. Dia sangat kecewa dengan jawaban Ipeh dan memutuskan cinta sepihak dengan Ipeh. Namun tanpa di duga Ipeh menelepon dan mengatakan dia berada di rumah sakit sedang dirawat dan akan menjalani operasi. Tanpa berfikir panjang lagi, pagi itu hari sabtu tepat dimana Ipeh akan di operasi Wongbru datang ke rumah sakit. Selama 3 hari 2 malam Wongbru menunggui Ipeh di rumah sakit.

Ada mantannya Ipeh yang lain, Hary sebut saja begitu yang menitip pesan kepada Wongbru untuk menjaga Ipeh. Ada lagi cowok yang Wongbru tak kenal sebut saja namanya Onyx. Si Ipeh nggak menceritakan perihal Onyx kepada Wongbru. Di tengah suasana benci tapi rindu Wongbru merasa senang karena bisa menemani dan dekat dengan Ipeh wanita pujaannya. Hingga senin sore tiba Ipeh sudah boleh pulang setelah perawatannya setelah operasi amandelnya dirasa dokter sudah cukup.

Karena ada Onyx terpaksa wongbru naik taxi bertiga dengan Ipeh. Aku nggak tahu maksud adanya Onyx dikepulangan Ipeh dari rumah sakit ini. Menurut dugaanku nggak mungkin kalau cowok Ipeh karena nggak menunjukkan sedikitpun perhatian sebagai seorang cowok, walaupun dikemudian hari ada teman Ipeh mengatakan kalau Onyx adalah cowok Ipeh. Azan ashar terdengar setelah mandi dan ashar aku kemudian pulang, disamping agar Ipeh bisa istirahat juga badanku yang 3 hari 2 malem begadang dirumah sakit terkena angin malam mulai terasa penat, ngantuk, capek dan lelahpun mulai menjalar di seluruh tubuhku. Sebelum maghrib Wongbru sampai di kosan.

Setelah mandi dan istirahat sejenak Wongbru berkemas untuk berangkat kerja yang waktu itu dia dapat giliran kerja malam. Hari-hari panjang menanti jawaban Ipeh tak kunjung didapatkan Wongbru. Wongbru akhirnya berusaha bertahan agar tidak terlalu dibayangi wajah Ipeh, dia mengurangi frekwensi berkunjung ke tempat Ipeh. Biasanya Wongbru seminggu sekali berkunjung ke tempat Ipeh, tetapi kemudian menjadi sebulan sekali, satu setengah bulan sekali bahkan kadang dua bulan sekali.

Namun bukan berarti hal ini tak mendatangkan siksaan buat Wongbru. Hari demi hari dilaluinya dengan gamang tanpa arah, tubuh lemah gontai tak bertenaga. Sebagai ganti tidak bisa berkunjung ke tempat Ipeh, Wongbru menelpon Ipeh kalau nggak ke kantor ya ke ponselnya. Ibarat penyakit, sakit ini (Wuyung : jatuh cinta) benar-benar menyiksa Wongbru. Dan obatnya bagi Wongbru adalah menelepon Ipeh sehari 3 kali bahkan lebih agar bisa mendengar suara Ipeh si jantung hati.

Waktu berjalan terus tanpa henti, Wongbru tetap dalam penantian yang tak pasti dan menggantung. Jadwal berkunjung berkurang bahkan tak tentu. Obat menelepon sehari 3 kali sudah tidak begitu dipedulikan oleh Wongbru lagi. Sesekali menelepon ketika rindu yang datang bak badai serotonin yang menggunung menghimpit otak Wongbru. Nah di saat seperti itulah Wongbru baru menelepon Ipeh. Berkali-kali mencoba meminta jawaban Ipeh namun tak ada jawaban.

Kata-kata terakhir dari Ipeh yang di dengar oleh Wongbru adalah Ipeh menyatakan kalau sudah ada cowok, setelah sekian lama Wongbru PDKT dan terus berkunjung ke kosan Ipeh dan tidak ada indikasi yang dilihat Wongbru kalau Ipeh punya cowok. Wongbru sedikit memaksa agar Ipeh menyebutkan nama cowoknya itu. Namun Ipeh tak menyebutkannya. Wongbru hampir putus asa mendengar jawaban Ipeh bahwa dia sudah punya cowok. Walaupun jawaban itu tak meyakinkan hati Wongbru bahwa benar Ipeh mempunyai cowok.

Wongbru tetap berkeyakinan kalau Ipeh belum punya cowok. Dengan jawaban itu tak berarti badai serotonin di otak Wongbru hilang begitu saja. Seketika badai itu datang dan sakau wuyung menghunjam bersamaan dengan bayang-bayang wajah Ipeh, disaat itulah Wongbru harus minum obat menelepon Ipeh agar mendengar suaranya dan hilang rasa sakau yang dideritanya.

Setelah sekian lama tak berkunjung dan tak berkomunikasi lewat telepon, wongbru yang tak boleh datang dan melepon oleh Ipeh memaksa kembali dengan melepon Ipeh, tujuannya hanya satu agar rasa sakau yang dirasanya bisa berkurang.

Hingga akhirnya Wongbru sedikit memohon ingin berkunjung ke tempat Ipeh setelah sekian lama tak menemui Ipeh. Ipeh dengan sedikit berat mengiyakan tapi dalam hati Wongbru sedikit ada yang aneh. Masak iya setelah melarang datang tiba2 membolehkan untuk main kerumahnya lagi, Wongbru sedikit curiga. Ditambah lagi katanya Oktav yang dibilang cowoknya Ipeh ingin ketemu pula. Wah cocok… ada apa gerangan? Wongbru sudah siap dengan segala-sesuatunya. Double stick peninggalan bang Yunus dari Blitar telah disiapkan mengantisipasi dari segala sesuatu kemungkinan yang terjadi bila bertemu dengan Oktav.

Ipeh tetap menyambutku seperti biasa. Hanya saja ketika tiba di kosanya dia masih dalam perjalanan dengan Oktav. Aku diterima oleh saudara perempuannya dan seorang teman laki-lakinya. Mendengar hal itu Wongbru sedikit panas. Lebih panas lagi ketika Wongbru menoleh kebelakang diatas lemari kecil tempat pakaian terpajang foto Ipeh dengan Oktav, satu hal yang tak pernah ada selama bertahun-tahun ini Wongbru berkunjung.

Ipeh kemudian datang dan menawarkan minuman. Dia bergegas hendak membeli batu es untuk membuat syrup. Selagi keluar Wongbru langsung mengambil foto Ipeh dan Oktav yang terpampang diatas lemari dan menggunting-guntingnya di depan saudara perempuannya. “aku keselll…” gumam Wongbru sambil beranjak keluar dan menyalakan sebatang rokok lalu duduk di teras samping lantai dua kos-kosan itu.

Selama Wongbru duduk di teras samping entah siapa yang duluan menemuinya, Ipeh atau Oktav? Wongbru hampir tak bisa mengingatnya, tapi mungkin Oktav yang lebih dulu nyamperin Wongbru. Inilah kesempatan Wongbru untuk memastikan kebenaran bahwa dia adalah cowoknya Ipeh. Dan Oktav mengiyakannya.

Oktav yang sudah mengenal Wongbru mengatakan, “Ada apa sih jadi begini, Wongbru?”. Wongbru yang masih keturunan Wong Jowo menjawab, “ Sebelumnya maaf mas Oktav, bukannya saya lancang dan suka ganggu atau mau ngrebut ceweknya orang lain. Sama sekali nggak ada niat dalam diri saya untuk hal itu. Prinsip saya jangankan cewek sudah jelas ada cowoknya, saya tahu ada cowok yang mau naksir seorang cewek saja bagi saya pantangan untuk mendekati cewek tersebut. Semua itu sebagai bentuk sikap menghargai sebagai sesama cowok, bukan berarti aku takut. Jadi wajar saya sebagai laki-laki mengejar Ipeh yang setahu saya belum punya cowok. Dan perlu di ingat Oktav, ingat ketika Ipeh dioperasi dan dirawat di rumah sakit dan aku mejaga 3 hari 2 malam, waktu itu kamu nggak ada. Jadi aku lebih dulu PDKT sama Ipeh. Perkara Ipeh belum menerima, itu masalah lain. Saya juga sebenarnya mau Ipeh bicara terus terang, tapi dengan alasan nggak mau nyakiti dia nggak mau bicara terus terang. Dan malah tahu-tahu kamu ada disini sebagai cowoknya”.

Oktav hanya terdiam mendengar beberapa fakta yang dipaparkan Wongbru. Dan semuanya benar. Dia sulit mengelak, seperti sedang berdiri pada waktu dan tempat yang salah. Wongbru juga menyadari bahwa Ipeh adalah cewek Oktav. Dan Oktav hanya minta satu hal agar fotonya yang dipotong-potong dengan gunting oleh wongbru agar dikembalikan. Wongbru menyanggupinya.

Ipeh kemudian datang menemui Wongbru, dia mengekspresikan kekecewaan dengan situasi yang terjadi. Wongbru hanya minta maaf untuk terakhir kalinya dengan Ipeh, “ Sorri ya gue sudah gangguin hidup kamu”. Detik-detik keretakan yang sebenarnya dari hubungan dan pengejaran ini sudah pasti diujung mata, sedahsyat hentakan tsunami yang menghantam Aceh (2004) pada pagi hari sesaat sebelum Wongbru nyampai di kosan Ipeh.

Kata-kata terakhir Wongbru pada Oktav meniru gaya para pendekar dan pecinta sejati (semua itu dilandasi oleh besarnya cinta Wongbru kepada Ipeh),”Ok, Oktav gue titip Ipeh. Jaga dia baik-baik, sayangi dan cintai dia. Jangan sampai luh sia-siakan dia. Ingat, masih ada orang yang mencintai Ipeh dengan tulus dan kalau saya dengar sampai Ipeh disakiti dan dia tidak terima, luh akan perang dengan gue”.

Waduh mantap sok puitis gitu lho. Oktav menjawab dengan kesan yang kalau dibaca dari bahasa psikologi dia akan selingkuh dan membuang Ipeh suatu saat nanti. Wongbru sudah tak peduli, itu urusan Oktav nanti dengan karmanya sendiri. Yang ada dibenak Wongbru dia hanya ingin segera pulang dan bisa tidur untuk melupakan semua peristiwa dan bayang-bayang Ipeh. Wongbru akhirnya pulang dengan wajah lusuh masam walaupun dicegah dan diajak Oktav untuk masuk ke dalam kamar kos lagi. Wongbru menolaknya selain situasi yang nggak mendukung dia ingin segera enyah dari tempat itu dan mengubur dalam-dalam kejadian hari itu.(to be continue)

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

One Response to IPEH : Kisah Cinta Sejati Tak Sampai (i)

  1. Pingback: The Adventure Of Wong Fei Hung In Nusantara Archipelago « wikisopo

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: