Jangan Pernah Meyimpan Kebencian Sedikitpun Dalam Hatimu


(Interaksi yang  berakhir dengan kematian-Sebuah Renungan dan Muhasabah)

Mungkin hanya kebetulan orang-orang disekitarku dan pernah berinteraksi denganku mengalami suatu kejadian tragis bahkan sampai meninggal dunia setelah menyakitiku dan aku membencinya. Dan akhirnya hal ini akan menjadi penyesalan jika suatu saat kita sadar. Memang ketika kita membenci bisa sampai menimbulkan imajinasi, sumpah serapah, benci dan dendam yang mendalam. Seperti kisah-kisah berikut ini semoga menjadi ibrah buat kita semua.

  1. Kunar sebut saja namanya begitu. Pribumi di perantauan yang tingkahnya tengil, pongah dan sedikit begaya preman sekelas preman kampung begitulah. Lockernya yang dekat dengan lockerku membuat aku sering melihat kelakuannya pongahnya karena dekat. Dan aku membencinya dalam hati. Hingga suatu waktu sepertinya dia banyak masalah. Dan tumben-tumbenan menyapaku dan bertanya  dengan baik, “ Bro lihat uang gocapan jatuh nggak ya?”. Teringat kelakuannya yang tengil dan memang saya nggak melihat saat ditanya aku jawab dengan enteng, “ Gue nggak lihat tuh Kunar”. Tetapi ketika saya menoleh kebawah berbarengan dengan saat saya memakai celana saya lihat lipatan kertas berwarna biru yang tak salah adalah uang gocapan, aku diam saja. Dalam bathinku rasain lu Kunar, baru baik ke orang kalau elu butuh. Akhirnya uang aku pakai buat ongkos naik angkot. Selang beberapa bulan akhirnya aku dengar keruwetan keluarga si Kunar semakin parah hingga aku dengar sepulang mabok-mabokan & Tripping kali,  si Kunar tabrakan dan meninggal bersama teman atau pacarnya. Maafin gue Kunar smoga kematianmu bukan karena disebabkan kebencianku tapi karena takdir Allah semata. Dan masalah uang gocapan itu Allah telah membalasnya ketika aku mau kondangan, tiba2 setelah mampir beli rokok uangku berkurang 50 ribu tanpa aku sadari. Jadi impas sudah gocap dibalas gocap.
  2. Suatu ketika aku tidak punya rokok. Dan aku berkumpul dengan kawan-kawan satu pabrik karena kebetulan aku membantu bagian lain. Waktu itu menjelang istirahat aku menanyakan dan meminta pada salah seorang kawan, “ Tok punya rokok nggak, gue minta”. Kawanku sebut saja Antok. Nggak biasanya dia memberikan jawaban yang tidak mengenakkan dan membuatku malu. Padahal aku meminta dia juga karena hubungan pertemanan kami cukup baik, “ Wah..ini tinggal dua batang nih satu buat habis makan dan satu lagi buat bangun jam 3 malam”, begitu jawabnya di depan banyak orang tanpa memberiku rokok. Sontak saja wajahku langsung merah. Dalam hati saya bergumam, ”Timbang rokok Tok padahal kamu punya dua batang, padahal biasanya sesama perokok kalau ada orang yang minta meski tinggal sebatang biasanya di berikan demi menghormati dan menolong kawan”. Hatiku langsung terbakar kesal dan gondok karena merasa dipermalukan di depan umum,”Awas lu tok lihat saja suatu saat nanti”. Sampai beberapa lama pertemanan kami sedikit renggang dan saat yang gue tunggu-tunggu untuk membalas si Antok nggak pernah tiba. Hingga suatu saat aku mendengar dia sakit-sakitan, dan jarang masuk kerja. Kabar selanjutnya dia di-opnam dirumah sakit karena menderita kanker darah. Selang beberapa minggu rumah sakit sudah nggak sanggup dan akirnya di bawa pulang kampung. Akhirnya di kampung si Antok meninggal dunia. Jujur saja mendengar berita si Antok aku sedikit puas rasain lu akhirnya elu mati sendiri juga. Namun seiring berkembang dan terbukanya pemikiranku aku menyesal telah menyimpan dendam kecil ini. Maafin gue Tok bukannya gw benci ama elu tapi emang kata-kata elu dulu memang menyakitkan gw banget. Dan semoga saja kematianmu bukan disebabkan karena kebencianku tetapi karena takdir Allah semata. Semoga engkau tenang dan diampuni di alam kubur sana.
  3. Si Amat teman sekolahku yang agak sedikit pinter sih..tapi pelit dan perhitungannya dengan ilmu membuatku sebel berat. Mau nyontek temen tapi kalau diminta pertolongan satu soal saja susahnya minta ampun. Kalaupun ngasih biasanya nggak sempurna, jadi temen yang minta jawaban soal jadi salah dan dia yang benar karena mungkin dilengkapi lagi. Belum sampai ane benci sih. Suatu ketika dia main ke rumahku. Bertanya soal tugas-tugas sekolah. Setelah selesai dia pamitan mau pulang. “Ok bro, gue cabut dulu ya. Eh ballpoint gue dimana lihat nggak?”. Aku yang memang sudah sebel sedari dia dtang kerumah, menjawab sambil melihat ekpresinya. “Kagak tau”. Padahal ballpoint nya si Amat ada di depan matanya tapi kenapa dia nggak melihatnya ya? Sambil melirik ke ballpoint aku berbisik dalam hati, kena Lu Mat gue kerjain. Lagi butuh aja lu nyamper-nyamper ke rumah, giliran gw nanya ama lu nggak pernah di kasih jawaban yang benar. Akhirnya karna dia nggak melihat ballpoint-nya pulang ngacir deh si Amat. Tapi memang dasar bocah (badan segede kebo pikirannya nggak pecah-pecah) pada akhir kita studi dia nggak punya temen buat siding skripsi. Karena temen2 yang lain pun juga tidak respect dengan sikapnya.
  4. Seorang pimpinan di perusahaan menunjukkan sikap yang tidak baik dan jauh dari sifat terpuji. Malah cenderung arogan terhadap anak buahnya. Walaupun aku bukan anak buahnya dan belum bermasalah dengannya tetapi melihat dan mendengar kelakuannya, hatiku marah bahkan sampai timbul imajinasi, “Awas kau Dodot suatu saat aku punya kekuasaan akan aku balas semua kelakuan aroganmu”. Begitu geramku dalam hati kepada si Dodot sebut saja begitu menejer keras kepala yang tak mau tahu urusan anak buahnya. Doa, umpatan dan sumpah serapah mungkin tidak hanya datang dariku saja, mungkin orang lain juga banyak yang menyumpahinya. Karena sebab itulah mungkin balasan tuhan serasa dipercepat. Suatu hari pak Dodot kecelakaan dan patah tangannya. Tak lama berselang pak Dodot kemudian dipindah bagian yang menurut dia tak menyenangkan karena nggak ada uang sampingan. Kinerjanya dianggap buruk dan mendapat peringatan dari dewan direksi. Dengan berbagai under pressure pak Dodot akhirnya dengan terpaksa mengundurkan diri dari perusahaan. Lama tak terdengar pak Dodot sepertinya susah mendapat kerja karena sikap arogansinya. Kolega dan teman lamapun nggak mau menolong. Tersiar kabar lagi pak dodot mencairkan dana asuransi, keputusan yang tidak begitu perlu jika melihat level pak Dodot. Sudah begitu pak Dodot dicerai dari istrinya. Lengkap sudah derita pak Dodot, balasan atas kesewenang-wenangan selama ini kepada anak buahnya.
  5. Yang satu ini posisi dan jabatannya hampir sama dengan pak Dodot. Bahkan lebih tinggi lagi kekuasaannya di perusahaan wongso gondal-gandul. Sepak terjangnya banyak yang kontradiktif dengan alur dan prosedur hukum. Tetapi sebenarnya dia adalah ahli hukum. Sehingga banyak keuntungan yang dia peroleh baik secara terang-terangan ataupun karena sengaja mencari keuntungan secara pribadi. Banyak korban secara tak sengaja melalui structural oleh pak Widodo diputuskan tapi memang dia masih banyak pertimbangan dan masih ada hati nurani. Walaupun hal ini tidak bagus untuk perusahaan tetapi masih menimbulkan empati bawahannya. Nah empati-empati inilah yang akirnya dianggap suatu kebaikan oleh orang banyak. Hingga suatu peristiwa menggetarkan terjadi di perusahaan wongso gondal-gandul. Meledaknya para demonstran karena kepongahan dan bobroknya system. Pak widodo terseret arus besar yang sulit untuk dilepaskan. Proses hukumpun harus dijalani demi menyelamatkan posisi dan karirnya. Lingkungan disekitarnya tak memperdulikan akibat komunikasi approachment yang dibangun pak Widodo selama ini. Sepandai-pandinya belut berkelit suatu saat ketangkap tangan juga. Memang sudah waktunya kali pak Widodo harus berhenti menikmati masa jaya dan kesenangannya. Tanpa menunggu lama setelah para expatriat memborbardir dengan bermacam-macam tudingan dan fakta yang memojokkan, pak Widodo akhirnya mengundurkan diri dengan terpaksa dari perusahaan wongso gondal-gandul. Awalnya pak Widodo mencoba berbagai usaha untuk bertahan setelah resign. Tetapi semuanya gagal dan bangkrut. Tersiar kabar setelah semua usahanya bangkrut pak Widodo mencoba nglamar pekerjaan baru dengan menghubungi kolega2nya dan berhasil mendapat pekerjaan. Namun tak berapa lama pak Widodo bekerja di tempat yang baru mendadak tersiar kabar pak Widodo meninggal dunia karena serangan jantung. Tak kusangka dia begitu cepat meninggalkan dunia ini.

Setelah kejadian-demi kejadian diatas aku mulai instrospeksi/muhasabah. Ya Allah ampunilah sifat-sifat jelekku dan niat-niat burukku ini. Aku yakin allah maha pemaaf, Allah maha luas, Allah maha sabar, Allah maha pengampun, Allah maha pengasih, Allah maha penyayang, Allah maha besar, Allah sebaik-baiknya pembuat makar, Allah maha cepat hisabnya, Allah maha pedih siksanya dan Allah adalah raja segala raja yang mulia. Cukuplah aku bergantung kepadamu ya Allah…

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

One Response to Jangan Pernah Meyimpan Kebencian Sedikitpun Dalam Hatimu

  1. Pingback: The Adventure Of Wong Fei Hung In Nusantara Archipelago « wikisopo

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: