Doa-doa-ku Yang di Dengar Allah SWT


Tak ada gading yang tak retak, sepandai-pandai tupai melompat  sekali waktu pasti terjatuh juga. Pepatah ini menurut saya mengandung pengertian tidak ada manusia yang sempurna. Dan sebaik-baik manusia adalah yang menyadari kesalahan dan kemudian memperbaiki diri dikemudian hari.

Begitu pula dengan aku yang dari SD kelas 1 sampai kelas 6 rangking I, namun di EBTANAS nilaiku jatuh bahkan di bawah teman yang selama ini hanya masuk 10 besar. Aku terpukul dan mengevaluasi semua ini.

Semua berawal ketika aku mulai bergaul dengan teman yang membawa pengaruh negatif, aku mulai senang begadang, nongkrong malam hari di jalanan dan suka merokok. Aku mulai berbohong ke ortu mau belajar kelompok padahal hanya tidur di rumah teman dan kongkow-kongkow di jalan. Dan akhirnya kurang belajar hingga klimaksnya di kelas 6 semua itu membuat nilaiku benar-benar drop. Semua orang tak menyangk  (bahkan mantan wali kelas 4 ku dulu, yang terlihat sangat kecewa) dimana nilai raportku paling tinggi karena hanya ada nilai 8 dan 9 di raport ku, bu gur wali kelas membayangkan nilai NEM ku akan tinggi. Tapi kenyataanya jauh panggang dari apinya.

Sejak itu aku bertekad tidak mengulangi untuk yang kedua kalinya. Hingga waktu pendaftaran ke SMP tiba. Ada yang sedikit ganjil di pendaftaran SMP ini. Walau nilai NEM ku agak rendah tapi kalau mau masuk ke SMP N yang ada di dekat desaku nilaiku masih masuk persyaratan. Kakakku menawarkan ke berbagai sekolah aku tolak dengan alasan nggak minat, tetapi ketika di tawarkan masuk ke MTs yang tempatnya agak jauh sekitar 5-7 km, hati kecilku nggak mau tapi mulut ini nerocos dan wajahku berseri tanpa aku sadari dan tanpa aku mengerti, aku meng-iya-kannya. Jadilah aku sekolah di MTs yang letaknya di tetangga kecamatan. Mugkin ini bimbingan allah untukku agar aku masuk di MTs tersebut.

1. Di MTs ini aku rajin belajar dan beribadah. Puncaknya setiap akan melakukan perbuatan jelek dan tidak terpuji misalnya : menyobek daun pepohonan, hatiku selalu akan berbisik berbisik, “Jangan itu dosa tidak baik”. Subhanallah. Nilaiku di MTs ini cukup baik walau hanya rangking II saja dari kelas 1 sampai kelas 3. Aku kalah dengan seorang cewek yang ternyata anak pimpinan yayasan di MTsku, sebut saja dia Fitri. Aku terima semua ini dan berdo’a kepada Allah agar aku diberikan nilai yang memuaskanku, dan bertekad mendapatkan nilai lebih tinggi dari fitri di ajang EBTANAS. Dan Alhamdulillah setelah EBTANAS selesai dan diumumkan nilaiku yang paling tinggi di MTs. Aku sangat puas dan bersyukur atas karunia (nilai EBTANAS) yang diberikan kepadaku.

2. Di kampungku dulunya tidak ada mushola. Kami melakukan pengajian setiap malam jumat dan malam minggu. Ber pindah pindah rumah. Biasanya rumah pengurus/penggerak remaja di kampungku yang digunakan. Termasuk rumah orang tuaku karena kakak-kakakku termasuk salah satu penggerak dakwah. Dan bahkan rumah kosong pun kami jadikan tempat untuk mengaji dan melakukan kegiatan tarwih dan pengajian anak-anak / TPA ramadhan.

Hingga akhirnya 15 tahun lebih kegiatan pengajian di rumah kosong berjalan, akhirnya ada salah satu warga yang mewakafkan tanah untuk di bangun sebuah masjid kecil ukuran 6 x 6 meter. Akan tetapi letak tanah wakaf itu beda RW dengan kami yang aktif mengadakan pengajian. Dan agak jauh dengan sebagian besar warga RW yang tanahnya diwakafkan. Hingga akhirnya kami melakukan dakwah mengajak warga RW sebelah yang juga belum punya masjid itu untuk bisa datang dan beribadah ke masjid kami yang baru. Awalnya hanya beberapa yang datang. Kemudian kami membidik remaja. Mereka hanya datang malam minggu saja. Baca tulis alqur’an sudah nggak mau alias malu mungkin mereka sudah mulai remaja.

Kemudian kami membidik dakwah kepada anak-anak SMP ke bawah untuk ikut pengajian TPA. Kami kerahkan anak-anak dan remaja untuk mengajak warga sebelah. Alhamdulilah lumayan banyak peminatnya. Namun anak-anak kadang ada yang dicariin para orang tuanya untuk diajak pulang di tengah pengajian TPA berlangsung. Nggak tahu apa lasannya. Bahkan mereka kadang datang dengan tatapan mata yang tak ramah dan kurang bersahabat, menegurpun tidak kepada saya ataupun teman yang lain selaku pengajarnya.

Hingga akhirnya aku sempat ngoborol dengan salah seorang warga RW sebelah, “Warga RW sebelah akan mau ke masjid dengan berbondong-bondong kalau yang menggerakkan dakwahnya adalah dari kalangan mereka sendiri”. Kemudian aku berucap lagi, “ Aku berharap dan berdo’a semoga di kemudian hari ada warga RW sebelah yang tergugah untuk berdakwah mengajak warganya ke masjid, termasuk engkau Nasrullah”. Nasrullah sebut saja begitu anak seumur SMP warga RW sebelah, yang umurnya terpaut 5-6 tahun denganku waktu itu nggak bisa ngomong apa-apa kecuali mengakui,” Aku nggak bisa apa-apa mas, ngaji al-quran juga belum lancar”, ucapnya tertunduk lemah. “Tapi kalau nggak ada orang dari RW kamu sendiri, siapa lagi nasrullah. Aku sangat berharap kamu nantinya bisa menjadi generasi penerus yang mengajak warganya ke masjid” ucapku kemudian sampai akhirnya terdiam, mengingat perjuangan dakwah di RW sebelah ini cukup sulit. Pertama jarak warga dengan masjid agak jauh bagi yang tidak punya keimanan. Kedua warga di RW ini baru sebentar mendapat pencerahan dari da’I dan kehilangan penerus penggerak dakwah setelah di tinggal kader dakwahnya.

Sampai 4-5 tahun setelah aku meninggalkan kampung halaman untuk bekerja, umur Nasrullah sudah seumur anak-anak SMA. Setelah aku tinggalkan masjid dan kampung masih ada satu generasi yang menggerakkan dakwah masjid. Nah setelah generasi ini tibalah masanya Nasrullah memimpin remaja masjid berdakwah dan beribadah di kampungku di masjid dimana aku dulu beraktifitas. Di perantauanku aku mendengar kabar bahwa masjid istiqomah yang dulunya banyak digunakan oleh warga RW-ku, kini jamaahnya bertambah banyak dari RW sebelah. Dan ternyata Nasrullah berhasil mengajak dan berdakwah mengajak warganya untuk mengenal masjid dan mengenal allah kembali setelah sekian lama mereka tinggalkan tanpa sadar. Persis seperti doa dan harapanku dulu, “semoga ada generasi penerus untuk masjid istiqomah ini dari warga RW sebelah ini ya Allah…”

Nasrullah pun acap kali menyebut namaku sebagai gurunya. Ia bisa mengaji dan mengajar ke orang lain juga bisa pidato/ ceramah di depan umum itu karena ilmu yang aku ajarkan begitu dia berkata ketika di depan jamaah. Dan subhanallah kemampuan Nasrullah memaknai agama dan islam melebihi kemampuan yang aku miliki. Simpati banyak datang dari berbagai pihak untuk nasrullah, hingga teman sekampungku yang kondisi status sosialnya lumayan memasukkan Nasrullah untuk bekerja di rumah sakit tempat istrinya bekerja. Nasrullahpun semakin disegani warga RWnya dan kata-katanya mulai di dengar warga. Terakhir berita yang saya dengar warga yang kebanyakan ke masjid adalah anak-anak dan remaja, tetapi sekarang orang tua dan dewasa sudah mulai mau ke masjid. Alhamdulillah…

Kabar terakhir lagi Nasrullah sudah menikah dan mungkin di karuniai anak. Dan masih terus membina jamaah di tengah kesibukkannya bekerja dan menafkahi keluarga. Sayang niatku untuk menjodohkannya dengan adikku tidak kesampaian, mungkin kehendak Allah jualah yang telah mengatur semua ini.

3. Adikku perempuan SS adalah salah satu muridku dari ke-10 murid yang aku ajarkan memperlancar bacaan al-quran dengan cara tadarrus bersama-sama sampai khatam. Ketika adikku baru lulus sekolah aku mempunyai keinginan untuk menjodohkan adikku dengan Nasrullah. Pemuda warga RW sebelah yang sholeh dan aku anggap mendapat hidayah dari allah. Tapi keinginanku ini belum aku dzahirkan, hingga akhirnya adikku pun merantau ke kota besar. Waktu itu adikku ada di Serang, Banten dan aku di Bogor, Jabar.

Suatu ketika ada pemuda lain dari warga RW sebelah menyatakan cinta dan meminang adikku ke orang tuaku. Orang tua hanya bilang, “Wong tuwo sak dremo nuruti opo karepe anak le, yen anak setuju aku yo setuju. Tiwas tak pekso-pekso yen anakku ra mathuk kepiye coba le. Dadi masalah iki tak serahke anakku wedhok sing njawab”, begitu jawab orang tuaku (orang tua hanya sekedar mengikuti apa kemauan anak nak, kalau anakku setuju aku yo setuju. Kalaupun dipaksa-paksa tapi anakku nggak setuju gimana coba nak. Jadi masalah ini aku serahkan sendiri ke anak perempuanku untuk menjawabnya).

Adikku waktu itu menjawab dengan halus dan diplomatis bahwa ia belum berfikir untuk menikah, ia masih ingin membalas budi ke orang tua, demikian jawab adikku. Dari rumor-rumor, orang-orang  tau dan menganggap bahwa yang berpengaruh terhadap orang tua dan adikku adalah aku. Sampai akhirnya pemuda tadi mendapatkan no HP ku dan mencoba meneleponku. Aku angkat telepon darinya tetapi aku putus sepihak sebelum tahu siapa sang penelepon. Aku yakin telepon itu adalah dari dia. Aku putus sepihak karena aku tidak ingin masalah sebesar ini hanya dibicarakan lewat telepon, danyang kedua aku tidak mau dipengaruhi untuk mendukung hubungannya dengan adikku, aku tidak mau menjadi penentu berhasil tidaknya cinta pemuda itu diterima adikku. Dan yang ketiga aku juga sedikit menyangsikan kesholehannya.

Aku mulai gundah dengan kondisi ini dan berniat mengutarakan keinginanku untuk menjodohkan adikku dengan Nasrullah. Maka beberapa minggu kemudian aku telepon adikku dan mengutarakan niatku tersebut. Betapa tercengangnya saya ketika adikku menjawab telepon dan berkata, “Mas tahu nggak bahwa semalam aku mimpi di datangi sama mas. Dan mas bilang “Tahu nggak dik satu-satunya pemuda yang memperhatikan kamu adalah Nasrullah. Dan aku berniat menjodohkan kamu dengannya”. Aku terdiam sebentar dan merenung ternyata keinginanku sudah sampai lebih dulu lewat mimpi ke adikku, dan kemudian berkata kepada adikku, ya udah dik yang penting aku sudah mengutarakan niat dan ganjalan dihatiku, selanjutnya aku tidak mau memaksa kamu harus menerimanya, yang lebih penting tawakkal dan selalu berserah diri kepada allah semoga kamu mendapat jodoh yang baik dan sholeh.

Sampai suatu ketika kakakku yang dinas di Serang pindah ke Jakarta. Aku mulai resah memikirkan keamanan dan keselamatan adikku di tanah perantauan yang jauh dari sanak keluarga. Kebetulan adikku juga pernah mengenalkan seorang pemuda banten, yang adikku bilang dia simpati padanya. Akhirnya tanpa aku sadari aku telepon dia (hampir mirip seperti kejadian no 1) dengan nada agak keras, aku minta supaya dia menjaga adikku dan kalau ada apa-apa dengannya urusannya denganku. Dia sedikit tersinggung karena terpojok dan terdesak tanpa pra pembicaraan yang lebih landai. Tapi juga membuka posisi yang menguntungkan dia adalah (dengan pembicaraanku lewat telephon aku mengesankan memberi izin&restu) akan menikah dengan wanita yang dia harapkan dan mendapat dukungan dari kakaknya seperti aku.

Sehingga setelah aku menlepon si pemuda tadi, dia mempercepat pernikahannya dengan adikku. Yang sebenarnya dia sudah ngomong ke adikku kalau dia mau menikahi adikku kalau sudah diangkat karyawan. Alhamdulilah adikku menikah dengan orang banten dan aku sekeluarga bisa menghadirinya. Walaupun secara nalar logika manusia biasa aku menolaknya namun di dalam hatiku menjawab bahwa pemuda ini adalah anugrah dan karunia terbaik yang Allah berikan untuk adikku. Jadi terjawab sudah doaku yang selama ini mengkawatirkan adikku. (Salah satu kekawatiranku yang mendesak adalah karena adikku mengatakan ada pemuda seberang yang bercanda mengajaknya kawin, waduh.. kawin sih kawin tapi kalau nggak jelas keluarganya, keinginan dan nafsu besar tapi nggak tahu cara kawin yang baik bisa repot dah..demikian pikirku dalam hati). Padahal doa ku waktu itu masih di dalam hati, “Ya allah semoga engkau karuniakan pendamping buat adikku pria yang sholeh yang nantinya aku tidak mengkawatirkan keselamatan adikku lagi”.

4. Aku sebenarnya masih ingin melanjutkan kuliah setelah lulus STM. Tapi apalah daya kemampuan ortu tidak bisa dipaksakan lagi untuk membiayai aku sampai PT (perguruan tinggi). Tahun 1996 aku lulus, namun jauh-jauh hari aku persiapkan untuk bisa merantau secepatnya agar bisa segera juga membantu ortu. Salah satunya sewaktu ada pemutihan pembuatan KTP, teman-teman sebayaku nggak ada yang ikut pembuatan KTP. Tapi aku karna sudah ada rencana untuk merantau maka aku daftar pembuatan KTP pemutihan tersebut, lumayan gratis modal foto doang. Juga aku meminta kakakku yang perempuan untuk menyurati mas Hardi (sepupu) yang ada diperantauan untuk nitip aku adiknya.

Dan setelah bekerja disetiap kesempatan, jika teringat kuliah maka aku selalu berkata, ”Aku sebenarnya ingin kuliah tetapi sekarang belum punya biaya, tapi jika Allah mengahendaki kun fayakun insya allah aku bisa kuliah”. Kata-kata itu yang selalu aku ucapkan ketika aku ingat akan keinginanku untuk kuliah. Dan al-hamdulillah setelah 5 tahun bekerja tepatnya tahun 2001 aku membaca selebaran, UMJ membuka pendaftaran mahasiswa/I baru jurusan teknik. Selebaran itu seakan diantar langsung (dari Allah) khusus buat saya di kos-kosan. Tanpa membuang waktu aku langsung mengutarakan niatku ke mas Hardi, saudara sepupu yang aku anggap orang tuaku. Mas Hardi setuju dan akhirnya aku kuliah di UMJ dengan jurusan teknik industri. Alhamdulillah akhirnya saya lulus S1 jurusan teknik dan diwisuda tanggal 3 Maret tahun 2007.

Demikian beberapa doaku yang didengar Allah semoga dengan saya tulis pengalaman ini, bertambah keimanan dan ketaqwaanku pada Allah SWT. Dan bisa menjadi ibrah yang baik untuk kita. Amiin Alhamdulillahi raobbil ‘alamin

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

One Response to Doa-doa-ku Yang di Dengar Allah SWT

  1. Pingback: The Adventure Of Wong Fei Hung In Nusantara Archipelago « wikisopo

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: