Aku Saksi Muridku Yang Memilih Jalan Meninggalkan Ilahi


Dahulu sekitar tahun 1994-1995 saya punya Sepuluh (10)murid baca al-qur’an, 5 laki-laki dan 5 perempuan. Murid-murid itu adalah :

1. SULARDI (LK)

2. HARYANTO (LK)

3. SUMANTO (LK)

4. DANU WINARTO (LK)

5. SUPRIYANTO (LK)

6. HENI SETYOWATI (PR)

7. ERLYN EKASARI AMINATUN PURBASARI (PR)

8. SITI RODIAH (PR)

9. SITI SHOLIKAH (PR)

10. RUMINAH (PR)

Awalnya saya punya 10 murid tersebut bermula ketika murid setingkat SD sudah tidak ikut ngaji lagi di pengajian anak-anak. Ke-10 muridku itu sudah tingkat SMP kecuali anak bernama SP yang masih SD kls 6. Pengajian anak-anak di tempat saya maksudnya adalah pengajian seperti TPA. Pengajian anak-anak selalu dilaksanakan pada bulan ramadhon. Waktunya ba’da ashar sampai bedug maghrib. Hanya saya pengajian anak-anak waktu itu belum menggunakan methode dan buku iqro’ tapi masih menggunakan juz ‘amma. Ke-10 murid saya membaca juz ‘amma mungkin lancar tapi kalau membaca al-qur’an belum lancar. Dan mungkin ada sedikit pemikiran gengsi bin tengsin dari ke-10 murid ini, sudah gede kok masih belajar membaca juz ‘amma ataupun iqro’.

Nah dari situasi itu saya berfikir dan mengajak ke-10 anak-anak itu itu untuk belajar mengaji dan memperlancar bacaan al-qur’an dengan menggunakan kitab al-qur’an langsung. Alhamdulillah mereka mau karena mereka ngaji tidak campur dengan anak-anak yang masih kecil dan mereka merasa bangga dan tertantang untuk bisa membaca al-qur’an dengan lancar yang huruf-huruf arabnya bersambung dan lebih rumit. Dan ada perasaan mereka merasa dihargai dan diperhatikan dalam pembelajaran tersebut. Untuk memperlancar tujuan saya menggunakan Metodhe sebagai berikut :

1. Belajar memperlancar bacaan al-Qur’an pada hari Senin dan Kamis.

2. Waktunya pulang sekolah sampai ba’da ashar. Kalau tidak salah jam 14:00 mulai belajar. Dan saya pun yang masih duduk di kelas SLTA juga baru pulang sekolah jadi langsung ke mushola setelah makan siang.

3. Setiap pertemuan menabung Rp. 50,-. Tujuan dari tabungan ini nantinya akan dibelikan al-quran dan al-qur’an nantinya akan disumbangkan atau di simpan di mushola sebagai inventaris, mengingat waktu itu kalau bulan ramadhan jamaah mushola kekurangan jumlah kitab al-qur’an.

4. Dianjurkan setiap senin dan kamis untuk melakukan puasa sunnah.

5. Satu orang membaca yang lain memperhatikan bacaanya. Saya dengan kemampuan tajwid seadanya membenarkan bacaan yang salah. Dan kadang murid yang akan mendapat giliran urutan baca yang saya minta untuk menganalisa tajwid dan membenarkan bacaan yang salah. Teknik ini bertujuan untuk merangsang dan mengasah kemampuan tajwidnya ke-10 muridku.

6. Berlatih memperlancar bacaan al-qur’an ini sampai khatam. Hampir 8 bulan lebih akhirnya murid-murid ini khatam bersama memperlancar bacaan al-qur’an dan tabungan yang terkumpul selama ini dibelikan kitab al-quran sebanyak 10 buah. Namun kalau tidak salah ingat aku mendapat 11 buah al-qur’an, yang satu adalah bonus dari toko karena beli banyak.

Pada saat yang bersamaan di mushola kami, pengurus remajanya mengadakan penggalangan dana dengan cara menerbitkan kartu infaq ASHRIMIQ (red : Amal SHodaqoh Remaja MasjId IstiQomah) yang setiap bulannya para remaja wajib infaq sebesar Rp. 250,-. Dan juga mengadakan pengajian remaja setiap malam minggu. Pengajian malam minggu menurutku adalah adalah ajang berlatih ceramah dan berbicara di depan umum dengan menggunakan bahasa jawa yang kental. Kemudian ada acara inti ceramah yang disampaikan oleh para senior. Cara ini menurutku cukup efektif juga dalam mencetak kader penerus generasi mushola.

Muridku yang bernama DW setelah program belajar memperlancar al-Qur’an pada hari Senin dan Kamis yang saya laksanakan berjalan beberapa minggu suatu saat ngomong ke saya untuk tidak ikut lagi program ini dengan alasan mau masuk ke kategori remaja, ikut pengajian malam minggu saja dan mau ikut infaq remaja ASHRIMIQ. Aku tidak kuasa menolak dan mengataka ke DW, “Ya sudah kalau kamu ikut kategori remaja nggak apa-apa, yang penting malam minggu ikut pengajian”, demikian jawabku walaupun dalam hati aku kecewa dengan mundurnya DW dari belajar memperlancar bacaan al-qur’an. Feeling dan dugaanku mengatakan si DW ingin punya waktu lebih banyak untuk bermain dengan komunitas anak-anak dan remaja seusianya yang jarang ngaji dan ke masjid. Aku tidak bisa melarangnya.

Dan benar saja si DW masih ikut pengajian remaja malam minggu tapi saya perhatikan mulai bergabung dengan anak-anak dan remaja yang jarang ngaji dan ke masjid. Mereka cenderung senang kongkow di jalan, begadang malam, rokok minum, dan gunjrang-gunjreng apalagi di malam minggu. Singkat cerita DW mulai jarang ke masjid. Dan sekitar 1-2 tahun setelah aku meninggalkan kampung halamanku untuk merantau terdengar kabar si DW kecelakaan dalam sebuah tabrakan. Si DW waktu itu berboncengan dengan salah satu temen kongkownya dan kemungkinan dalam keadaan mabok waktu mengendarai motor. Kaki kanan si DW patah 3 tempat. Syukur Alhamdulillah kakinya tidak sampai di amputasi. Dalam hati kecilku mengatakan, “Seandainya saja DW ikut ngaji belajar memperlancar bacaan al-qur’an dengan ke-10 muridku itu mungkin dia tidak bergaul dengan anak-anak yang suka kongkow itu dan mungkin dengan tidak bergaul dengan anak-anak itu DW tidak akan mengalami kecelakaan”. Aku hanya terdiam pasrah dan menyimpan kenyataan ini dalam hati. Wallahu a’lam…

Hingga suatu saat hari hari raya idul fitri tiba, kami eks remaja masjid istiqomah yang merantau ke kota besar pulang kampung. Kebetulan di perantauan pun juga ada perkumpulan untuk menggalang infaq dan silaturahmi. Kami semua yang mendengar berita kecelakaan DW bersilaturahmi membesuknya dan memberikan sumbangan ala kadarnya. Tidak ada kata-kata yang kami ucapkan kecuali hanya doa semoga DW cepat sembuh. Waktu itupun DW hanya terdiam seribu bahasa tidak ada yang bisa ia ceritakan. Mungkin juga dia malu dengan dirinya sendiri atau tak bisa berkata karna sakit yang dideritanya. Yang jelas waktu itu kami banyak ngobrol dengan kedua orang tuanya. Semoga kisah ini memberikan ibrah kepadaku dan kepada kita semua.

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

One Response to Aku Saksi Muridku Yang Memilih Jalan Meninggalkan Ilahi

  1. Pingback: The Adventure Of Wong Fei Hung In Nusantara Archipelago « wikisopo

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: