Haruskah Dengan Revolusi Untuk Perubahan Negeri


Aku hanyalah manusia biasa. Aku hanyalah manusia lemah yang tak berdaya. Aku hanyalah bagian kecil buruh yang terpinggirkan. Aku hanyalah rakyat kecil sama seperti dirimu dan kebanyakan kondisi rakyat negeri ini. Tetapi tidak karena aku rakyat kecil dan tak berdaya aku lantas tidak bisa merasakan getir pahit dan compang-campingnya kondisi negeri ini. Kawans…aku hanya bisa termenung sedih mendengar, melihat dan menyaksikan ketidak adilan dan kesewenang-wenangan hiruk pikuk di depan mata mengobrak-abrik nuraniku dan setiap anak bangsa yang mencintai negerinya. Yang kalau aku fikirkan terus menerus.stress mengantui ragaku dan ketika aku mau berobat karena kelelahan stress kompensasi kesehatan dari perusahaan dan penghasilanku memaksa aku berfikir 2x lagi karena kalau aku berobat bisa jadi besok lusa tidak ada jatah makan untuk anak-anakku. Maka tak jarang ketika ada tayangan berita politikdi TV aku selalu memindahkan canelnya ke canel yang lain yang bukan berita politik. Hal itu semata-mata karena aku tak tega, jenuh, lelah, letih, bingung dan tak habis fikir, kenapa negeriku bisa seperti ini?
Tunggu belum bisa dilanjut broo…

Masih ingat saya ketika tahun 1998 terjadi kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei tersebut. Waktu itu saya sedang bekerja. Tiba-tiba sekitar jam 14.00 wib pimpinan produksi menyetop produksi dan mengumpulkan seluruh karyawan untuk berkumpul. Dalam breafing singkat itu pimpinan produksi mengatakan, “Telah terjadi kerusuhan besar di Jakarta, Jakarta terbakar dan Jakarta lumpuh. Sehingga dengan kondisi itu perusahaan mengkawatirkan karyawan dan keluarga yang kebetulan di wilayah Jakarta. Semua karyawan disuruh pulang untuk memastikan keluarganya selamat. Esoknya kalau tidak bisa masuk tidak apa-apa. Tapi kalau bisa masuk ya masuk kerja”. Demikian maklumat pimpinan produksi waktu itu masih tergiang di telinga.

Dan ternyata kerusuhan tersebut tidak hanya di Jakarta saja melainkan juga terjadi di kota-kota besar di seluruh Indonesia seperti medan solo Surabaya dan kota besar lainnya. Saya juga masih teringat kata-kata pak haji tempat saya kos ( ngontrak rumah ) bahwa : “kalau kondisi seperti ini : harga naik, inflasi naik, dollar naik, nyari makan susah, berdagang susah tunggu saja pasti nanti kan terjadi penjarahan”. Dan benar setelah 6 bulan atau 1 tahun terjadi kerusuhan Mei 1998.

Kalau tidak salah rentetan peristiwa-peristiwa yang mengawali kerusuhan dan peristiwa setelah kerusuhan adalah sbb :

  1. Krisis dunia yang menyebabkan dolar naik, waktu itu di Indonesia mencapai 8.000 an dan krisispun melanda Indonesia.
  2. Krisis ekonomi Indonesia melanda dan rakyat terpuruk, nyari duit susah, usaha susah singkat kata kaum marginal semakin terjepit.
  3. Issu suksesi kepemimpinan yang berhembus sebelumnya dan ditambah umur pemimpin RI 1 waktu itu sudah cukup tua mendapat mendapat kesempatan dan moment yang tepat.
  4. Sistem pondasi pemerintahan yang belum kuat menimbulkan celah spekulasi untuk pengalihan kekuasaan ke orang terdekat ( bukan melalui cara-cara elegant dan demokrasi ). Dan diduga intelijen berperan dalam kerusuhan Mei 1998.
  5. Meledaklah kerusuhan Mei 1998 indonesia lumpuh tetapi tidak sampai kolaps, begitu kata pengamat. Dan para ahli menyebut krisis yang terjadi tidak hanya krisis ekonomi saja tetapi krisis multi dimensional. Yang artinya kurang lebih di segala sendi kehidupan kita telah kropos, moral, mental, ekonomi, nasionalisme, kesetiakawan dan infrastruktur telah hancur. Dan hal ini membuat kepedulian sesama hampir hilang diantara anak bangsa.
  6. Pejabat dan pemerintahan dituding tidak bisa menjalankan pemerintahan dan salah kelola sehingga membuat krisis ini menjadi krisis multi dimensi.
  7. Demo terjadi dimana-man menuntut RI 1 mundur. Terjadilah korban trisakti 1, 2 dan 3. Dan inilah awal periode reformasi.
  8. Akhirnya RI 1 mundur dengan sukarela, dan menyerahkan kepemimpinan ke RI 2.
  9. RI 2 melaksanakan pemilu yang dipercepat. Namun sebelum pemilu lepaslah timor timur dari negeri republic ini.
  10. Pemilu yang dipercepat selesai dan tokoh NU menjadi RI 1 dan sebagai wakilnya tokoh dari PDIP.
  11. Era reformasi membuka celah rakyat dan anak bangsa untuk berekspresi namun karena terlalu bebas reformasi anak bangsa kebablasan tanpa kendali, orang menyebutnya euporia. Di tambah sistem pemerintahan dan moril pejabat yang tidak bisa mengendalikan situasi secara real.
  12. RI 1 dari tokoh NU diturunkan dengan impeachment ( mosi tidak percaya) oleh DPR-MPR. Sebagai pengganti wakil RI 2 memimpin negeri sampai habis masa pemerintahan. Tercatat kisah miris bangsa ini yaitu penjualan saham indosay ke pihak asing dan munculnya UU buruh yang menghalalkan sistem outsourching sebelum akhirnya direvisi dengan UU ketenagakerjaan no 3 / 2003. Walaupun begitu praktek outsourching telah menjalar bahkan setengahnya dilindungi pejabat. Di tengah lapangan industry prakte ini seakan legal hasil kong kalikong pejabat dengan pihak perusahaan yang diuntungkan dengan outsourching.
  13. Pemilu pun datang untuk periode selanjutnya dan terpilihnya pemimpin negeri dari militer asal jawa timur. Sang pemimpn negeri ini terpilih untuk yang kedua kalinya. Di era sang pemimpin ini bencana mendera tiada terkira mulai dari banjir, tanah longsor, kapal tenggelam, tabrakan pesawat, tabrakan kereta api, kebakaran, gempa bumi, gempa tsunami, korupsi, korupsi tiada henti hingga kasus polisi yang menembaki rakyat sendiri di Mesuji.
  14. Di era ini korupsi seperti ramainya pasar tradisional ingat kasus century, kasus jaksa TG, gayus, bank BI, nunun, nazaruddin, dan lebih sedihnya di negeri ini orang 2 yang berbuat baik hidupnya akan dibui oleh bejatnya sistem dan moral politik yang kejam. Ingat kasus antasari, Mesuji, semua adalah refleksi kebobrokan sistem dan moral pejabat Negara.

Semua peristiwa ini mencerminkan bahwa sebenarnya negeri ini sudah tak terurus dengan baik. Gaji pegawai sebagai indikasi kesejahteraan bukan lagi sebagai pemicu untuk korupsi. Melainkan sebenarnya dari pejabat paling rendah sampai pejabat tertinggi terjangkit virus korupsi, gemar korupsi dan sangat cinta dunia sehingga lalai memikirkan rakyat, na’udzubillahi min dzlik…Ya Allah berilah aku dan keluargaku dan orang soleh menghadapi semua ini, dan berilah petunjuk para pemimpin kami…

Satu waktu saya ada di kelas dan diskusi menyangkut kondisi negeri ini dengan seorang dosen MK kewarganegaraan yang juga peduli dan prihatin dengan kondisi negeri ini. Analisaku diberikan anggukan sebagai respon tanda setuju. Waktu itu memang belum berselang lama setelah Mei 1998 mungkin sekitar tahun 2001-2002.  Analisaku sebagai berikut :

  1. Di negeri ini selain krisis multi dimensi juga krisis kepemimpinan. Artinya tidak ada (sedikit pemimin) yang memperikan keteladanan bagaimana memimpin Negara yang baik. Seandainya ada itu di tingkat dati II yang kurang memberikan dampak secara luas.
  2. Negeri ini memerlukan tokoh pemersatu seperti zaman perang kemerdekaan dan pra kemerdekaan. Hal ini dikarenakan sumber daya yang minim dalam posisi pimimpin. Ada banyak orang pintar tetapi belum tentu bisa memimipin. Bahkan kita nyaris kehilangan keteladanan para pemimpin.
  3. Kerusakan moral para pejabat dan krisis ekonomi / rakyat susah secara ekonomi dan permainan hukum yang licik yang menghukum kaum lemah dan membebaskan para pelaku korupsi dan kaum yang berduit berdampak dendam secara perlahan dari rakyat, mereka  menunggu saat yang tepat utnul menyala seperti bara di bawah sekam.
  4. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa ada upaya pencegahan dan jika pemimpin tidak menyadari hal ini maka akan terjadi konflik-konflik antara rakyat dengan pemerintah. Seperti aceh, papua, Maluku, Mesuji, NTB dan tidak mustahil konflik yang lebih besar akan bisa meledak. Bahkan mungkin revolusi social bisa terjadi ditengah kondisi negeri ini.
  5. Yang sangat ane kawatirkan jika kondisi ini tidak ada yang menyadari, negeri ini bisa seprti uni soviet yang tercerai berai memisahkan diri dari kesatuan dan keutuhan suatu bangsa. Yang saya ingat uni soviet hancur dimulai dengan krisis ekonomi ditambah pejabat yang korup, sehingga lupa memikirkan rakyat di negerinya hingga muncullah tragedy pemisahan diri itu

Demikian ulasan dari seorang yang sedikit mencintai negerinya, semoga menjadi pengingat untuk anak-anakku dan bagi para pembaca tanpa bermaksud untuk mempengaruhi, menjelekkan, menhina seseorang atau pejabat Negara. Tulisan ini hanya refleksi keprihatianan seorang anak negeri.

Ingat pesan nabi tunggulah kehancuran negeri jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya…dan salah satu tanda suatu kaum akan ditimpakan suatu kehancuran adalah pemimpin yang tidak adil. Semoga Allah menyadarkan dan memberi petunjuk bagi para pemimpin negeri ini dan melindungi bangsa ini dan orang-orang yak mukmin.

Merdeka jayalah terus Indonesia…!!!!!

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

One Response to Haruskah Dengan Revolusi Untuk Perubahan Negeri

  1. Pingback: The Adventure Of Wong Fei Hung In Nusantara Archipelago « wikisopo

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: