Jihad Akbar Muhammadiyah Mengantarkan Indonesia Unggul di Dunia pada Abad 21


Pada hari Ahad 4 Juli 2010, sebagai penggembira Muktamar Muhammadiyah Ke-46, pada hari ke-2 saya bersama dua orang teman AMM Desa Longkeyang yaitu Fahruri dan Kholid, jalan jalan di depan Sportorium UMY di mana di sini tempat sidangnya para peserta Muktamar. Di depan sportorium di seberang jalan tepatnya di dekat panitia keamanan , ada sekelompok anak muda mudi yang sedang menjajakan dan menawarkan buku pada setiap yang orang berjalan di depan Sportorium baik pada pengunjung, penggembira maupun peserta Muktamar, seharga 20 RM ya kalau di rupiahkan senilai Rp.50.000,-. Aku lihat begitu luar biasa semangatnya dan tidak merasa segan malu serta pekewuh setiap orang yang lewat, mereka dengan semangat optimis ia tawarkan bukunya, yang berjudul “ Muhammadiyah dan Tantangan Abad Baru, Percikan Pemikiran dari Negeri Jiran “.

Ternyata setelah aku lihat dan mendekat mereka adalah anak anak muda mudi kader dari PCIM Malaysia dan diantara mereka yang menarik bagi saya adalah ada kader putri yang asalnya dari Patani Thailand masih kuliah di Indonesia, ia dapat beasiswa dari Muhammadiyah untuk kuliah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Jogja.
Kemudian aku beli satu buku, kebetulan yang melayani namanya Mas Masrun ( dia sedang S.2 di Malaysia asal Jawa Tengah) lalu saya bertanya apa motivasinya mau jualan buku jauh jauh ke negeri seberang dari Malaysia ke Jogja, jawabnya ya untuk meramaikan Muktamar sekaligus belajar dan mencari dana untuk kegiatan PCIM Malaysia. Setelah aku baca bukunya, aku kaget karena di antara penulis buku tersebut ada nama teman saya yang dulu sama sama aktip di IPM di mana hampir lebih 20 tahun tidak pernah berjumpa, di mana di PCIM Malaysia dia termasuk salah satu pelopornya dan menjabat sebagai salah satu unsur ketua.

Alhamdulillah, pada hari itu juga kurang lebih jam 14:00 di depan Masjid KH.Ahmad Dahlan UMY karena Ijin Allah SWT dengan tidak sengaja saya bertemu dengan dia katanya baru sampai di Indonesia, dia kelihatan lelah karena baru menempuh perjalanan jauh dari Malaysia tapi di raut wajahnya kelihatan tetap semangat dan memancarkan kegembiraan. Teman alumni AMM tadi namanya Sulton Kamal , dulu waktu masih di SMA kita sama – sama sebagai aktifis IPM di kampung sebagai Pimpinan Cabang IPM Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang 1988/1989.
Antara Muhammadiyah dengan Negara Indonesia mana yang lebih kaya ?
Setelah sampai di rumah di Pemalang , pada tengah malam yang sepi di kamar aku baca lagi buku tersebut, aku tertarik pada judul “ Menunggu Kiprah Muhammadiyah dalam Kancah Pendidikan Global “ , pada halaman 113. Pada salah satu tulisannya si pena, adalah Ahmad Akhyar Adnan , salah satu pengurus PCIM Malaysia ( dalam buku Muhammadiyah dan Tantangan Abad Baru 2010 yang diterbitkan oleh PCIM Malaysia) mengatakan; “Sangat luar biasa jumlahnya. Sekali lagi tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri (na’udzu billahi min dzalik), jumlah asset ini belum tertandingi oleh gerakan keagamaan lain , baik sesama Islam maupun agama lain. Bahkan kalau asset Muhammadiyah dalam arti kuantitas bila dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga sekalipun, belum ada di antara negara anggota ASEAN yang mungkin mengalahkan Muhammadiyah, kecuali Indonesia sendiri” Lebih lanjut ia menjelaskan, sebagai contoh Malaysia (sebagai sebuah negara) hanya memiliki 27 juta penduduk (lebih sedikit dari jumlah anggota Muhammadiyah), dan memiliki sekitar 50-an Perguruan Tinggi (negeri dan swasta) saja. Sementara Muhammadiyah memiliki lebih dari 100 Perguruan Tinggi.
Kemudian, aku buka buku Profil Muhammadiyah 2005 , pada halaman viii ternyata disana tertulis jumlah SD/MI/MD adalah 2901 sekolah, SMP/MTS adalah 1718 sekolah, SMA/SMK/MA adalah 946 sekolah, Pondok Pesantren adalah 67 buah, Akademi/Politeknik/Sekolah Tinggi adalah 129 buah, Universitas adalah 36 buah, Amal usaha Kesehatan adalah 345 buah, Panti Asuhan dan pelayanan social adalah 330, Bank Perkreditan Rakyat adalah 19 bank, Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) atau Lembaga Keuangan Mikro Syaria’ah adalah 190, Koperasi warga Muhammadiyah adalah 808. Belum tanah wakafnya, belum TK nya, tempat – tempat ibadah (seperti masjd, surau dan mushola), lembaga-lembaga fungsional yang dimiliki persyarikatan dan lain sebagainya.
Adapun jaringan kepemimpinan/structural Muhammadiyah adalah pimpinan wilayah 30 propinsi, pimpinan daerah 375 kabupaten/kota, pimpinan cabang 2648 kecamatan dan pimpinan ranting 6721 desa. Ini belum termasuk PCIM yang ada di puluhan negara lain, juga belum jaringan dan struktur organisasi otonom Muhammadiyah yang terdiri dari Aisyi’ah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyi’atul Aisyi’ah (NA), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hizbul Wathon (HW) dan Seni Beladiri Tapak Suci.
Setelah itu aku klik http://www.muhammadiyah.or.id kemudian aku copy paste, ternyata sekarang jaringan dan AUM Muhammadiyah data tahun 2010 adalah :
Jaringan Kepemimpinan Muhammadiyah

 
 

 Jaringan Amal Usaha

Kalau kita bandingkan dari data 2005 dengan 2010 secara kuantitas, jumlah jaringan kepemimpinan mengalami penambahan semuanya dan Amal Usaha Muhammadiyah hampir semuanya mengalami penambahan jumlahnya. Hanya Madrasah Ibtidaiyah/Diniyah dari 1769 sekarang menjadi 1428 dan Akademi dari 55 sekarang 19 jumlahnya yang mengalami penurunan , tetapi Universitasnya bertambah dari 36 menjadi 40 universitas. Adapun yang jumlahnya tetap adalah pondok pesantren dan politeknik.
Sekali lagi data tahun 2010 belum menyertakan potensi jaringan pimipinana organisasi otonom Muhammadiyah (ORTOM), jaringan dan AUM PCIM di luar negeri dan AUM yang bergerak di bidang ekonomi (Koperasi, BTM dan BPRS) serta belum penambahan asset tanah wakafnya sebab masih banyak yang sudah ada dan beli tanah untuk di wakafkan pada Muhammadiyah tapi belum dilaporkan ke Pusat seperti misalnya pada Januari 2010 AMM Desa Longkeyang beli tanah diniatkan sebagai wakaf produktif diatasnamakan milik Ranting Muhammadiyah Desa Longkeyang (lihat di program pendampingan ranting pada website ini).
Saat ini Indonesia hutangnya 1612 Trilyun lebih, dan kira kira Muhammadiyah hutangnya berapa ? Coba Anda jawab sendiri mana yang lebih kaya antara Negara Indonesia dengan Muhammadiyah.
Pengakuan Sri Sultan Hamengkubuwana X terhadap peran strategis Muhammadiyah.
Sri Sultan Hamengkubawana X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada saat memberi sambutan pada acara penutupan Muktamar Muhammadiyah Ke-46 menyatakan dan mengakui bahwa Muhammadiyah adalah salah satu pilar yang penyangga peran strategis Yogyakarta. “ Peran strategis Yogyakarta di sangga oleh empat pilar yaitu, Muhammadiyah, Taman Siswa, UGM dan Kraton “, papar Sultan. Setelah membaca paparan Kanjeng Sri Sultan Hamengkubawana X, aku lalu teringat sejarah Kerajaan Mataram, di mana kerajaan ini mengalami puncak kejayaannya di nusantara pada pertengahan abad 13 M pada masa kepemimpinan patihnya Patih Gajah Mada.
Sekarang Yogyakarta lagi memiliki nama harum dan di akui peran strategisnya oleh warga dan simpatisan Muhammadiyah se-nusantara bahkan dunia dimana ada puluhan negara peninjau dan utusan PCIM datang, sehingga mereka mau datang dengan kesadaran diri dari segala pelosok negeri ini dan dunia ke Jogja, sampai GOR Mandala Krida tidak bisa menampungnya pada saat pembukaan Muktamar. Jogja macet, kota Jogja di banjiri manusia dan kendaraan luar kota, menurut laporan dari hasil penelitian Bank Indonesia (BI) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Ekonomi UMY diperkirakan jumlah uang yang beredar untuk dibelanjakan di Yogyakarta sebanyak 723 M dari peserta dan penggembira Muktamar yang diperikarakan 505.550 orang dan biaya pelaksanaan Muktamar sendiri sebanyak 23 M.

Kira-kira event apa di negeri ini yang mampu menggerakan perputaran rupiah 723 M dalam waktu satu minggu ?.
Tanpa bermaksud mengecilkan peran dari tokoh yang lainnya, kini KH. Ahmad Dahlan putra terbaik Jogja, nama aslinya M. Darwis pegawai kesultanan Yogyakarta, telah mengharumkankan, membuktikan dan membesarkan keunggulan Yogyakarta pada awal abad ke-21 M melalui persyarikatan Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan sebagai keturunan orang biasa bukan anaknya Presiden atau Raja atau Sultan tapi mempunyai mimpi dan cita-cita yang besar dengan fasilitas dan alat yang terbatas, dapat membuktikan dan meraih hasil yang maksimal, luar biasa dan mengagumkan.
Maka menurut saya sangat wajar dan sebagai ucapan terima-kasihnya terhadap Muhammadiyah, bila pihak pemerintah DIY dengan segenap jajarannya dan intansi serta seluruh masyarakatnya sangat mendukung dan antusias serta menyambutnya dengan suka cita atas terselenggaranya dan suksesnya Muktamar Muhammadiyah ke-46 di kota pelajar ini. Hal ini sebagai contoh dan pelajaran bagi pimpinan pemerintah daerah dan propinsi lainnya di Indonesia, kalau mau maju dan unggul daerahnya belajarlah dengan DIY. Ternyata kalau mau bergandeng tangan dengan Muhammadiyah, Insya Allah daerahnya akan lebih cepat berkembang dan maju.
Muktamar Muhammadiyah 1 Abad penuh percaya diri dan kemandirian.
Menjelang pelaksanaan Muktamar, kita merasakan sekali dan melihat pimpinan di semua level, warga dan simpatisan serta AUM Muhammadiyah bahu membahu dengan suka cita dan bergotong royong untuk menyemarakan siar Muktamar di seluruh pelosok negeri, seperti gerakan infak untuk muktamar mandiri, memasang baliho, spanduk, leaflet, umbul-umbul, pawai taa’ruf, aksi santunan kesehatan dan social, pendirian posko Muktamar dan tempat transit penggembira muktamar di pingkir jalan dan sebagai penginapan,dll semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran diri, penuh kemandirian diri dan dengan disertai rasa memiliki, kecintaan dan bangga terhadap Muhammadiyah.
Bagi mereka yang mampu dan punya kesempatan hadir di arena Muktamar, bahkan saking semangatnya dan cintaanya terhadap persyarikatan ini, ada yang sedang agak sakit memaksa diri tetap berangkat ke Jogja, ada yang berani melakukan bon (hutang) dengan jaminan gajinya di lembaga ia kerja, biar sampai di Jogja.

Kalau kita lihat waktu di Jogja, berbagai usia ada dari anak anak sampai kakek nenek, dari yang tampangnya orang kaya dan biasa, dari asalnya dari desa dan kota, dari professor sampai yang tidak lulus sekolah dasar, berbagi suku dan bahasa, tumplek bleg semua komplit ada, bahkan ada penggembira yang berbeda agamapun dari Papua ikut hadir ( ia hadir mewakli AUM Papua), jadi saya lihat Muhammadiyah penuh warna seperti pelangi yang indah dan mempesona. Di wajah mereka terpancar rasa kegembiraan, semangat perjuangannya dan setiap mereka berjumpa dengan lainnya akan menyambut dengan salam , senyum dan penuh kekeluargaan dan kehangatan serta akan menanyakan asalnya dari mana dan berapa jumlah penggembira yang berangkat ke Jogja dari kafilahnya.
Ternyata ketidak hadiran Presiden H. Susilo Bambang Yudoyono secara fisik di Yogyakarta, tidak mempengaruhi semangat dan kegembiraan serta tidak mengurangi sedikitpun motivasi mereka. Sehingga sangat pantas dan memang seharusnya demikian pada saat memberi sambutan pada acara pembukaan Muktamar, apabila Kakanda Din Syamsudin sebagai PP Muhammadiyah, dengan penuh semangat dan percaya diri serta nada yang mantap, berbobot, menggelora tetapi tetap santun dan jauh dari sikap takabur dan ria, beliau seakan akan mewakili suara dan jeritan hati nurani warga dan simpatisan Muhammadiyah yang berada di seluruh dunia, dengan mengatakan :
“ Muhammadiyah tidak kenal lelah berkiprah, siapapun pemerintah Indonesia. Muhammadiyah ibarat matahari dan negara adalah bumi. Bumi diciptakan karena ada matahari dan matahari diciptakan untuk menyinari bumi “.
Pada saat acara pembukaan saya kebetulan di dalam stadion dan pada hari itu cuaca cerah dan terang, aku merasakan dan seringkali melihat ke langit ternyata alampun ikut menyambutnya, sering di arena pembukaan ditutupi mendung sehingga kita tidak terlalu merasa panas dan beberapa kali gerimis kecil dari langit menyapa kita sehingga menambah kesejukan dan mengurangi hawa panas dalam stadion, dan saya yakin tamu undangan dan hadirin yang duduk ditribun tidak merasakan hal ini.
Tanpa bermaksud mengesampingkan dan mengecilkan bantuan dan dukungan yang luar biasa dari pemerintah DIY dan masyarakatnya termasuk Perkumpulan Gereja DIY dan jauh dari perasaan kita yang tidak berterima-kasih kepada semua pihak yang membantu untuk suksesnya Muktamar Muhammadiyah 1 Abad. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-46, saya melihat kemandirian persyarikatan ini betul betul tercermin dari awal sampai akhir pelaksanaanya. Yang paling saya syukuri dengan ucapan “ Alhamdulillah “ adalah hasil pemilihan anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang 13 orang, di sini sangat tercermin warga Muhammadiyah yang diwakili oleh muktamirin dapat menjaga indenpensi dengan baik dari hegomoni kekuasaan dan tarikan partai politik, ini sebagai jawaban atas keraguan beberapa tokoh nasional dan public akan adanya intervensi dari luar. Dari 2224 suara peserta muktamar, 2186 dinyatakan sah, 37 tidak sah dan 1 suara abstain alias tidak memilih.
Pada saat Muktamar kebetulan saya dua malam tiga hari tinggal di kampus UMY, kampus ini luasnya puluhan hektar dan fasilitasnya komplit dan sangat memadai untuk sebagai tempat perhelatan akbar Muhammadiyah. Kalau kita masuk di kampus ini yang muncul adalah kemegahan, perasaan bangga, kekaguman dan pasti akan muncul perasaan percaya diri dan percaya akan kebesaran persyarikatan Muhammadiyah. Semua peserta Muktamirin tinggal di kampus ini selama 24 jam full service, dalam penjagaan dan pengawasan oleh panitia Muktamar. Kira – kira apa mungkin ada pihak luar yang bisa masuk dan berani mempengaruhi Muktamarin ? Mungkin akan bisa lain apabila tempat sidang dan menginap peserta bukan di rumahnya sendiri, seperti asrama haji atau hotel. Hal ini barangkali salah satunya yang bisa di contoh oleh ormas lainnya yang ada di Indonesia dari Muhammadiyah.
Muhammadiyah sebagi media untuk menjemput husnul khotimah dan meraih kejayaan setelah kematian.
Aku dilahirkan dari keluarga abangan. Aku termasuk hamba Allah SWT yang bersyukur karena bisa sedikit mengenal Muhammadiyah melalui IPM dan IMM serta pada saat kuliah di UMS, dan sedikt punya pengalaman pernah merintis beberapa AUM baik di kota, di pesisir maupun di daerah pegunungan, dan pernah merintis fakultas psikologi salah satu PTM di Jawa Tengah dan sempat mencicipinya sebagai karyawan AUM yaitu sebagai dosen walaupun hanya beberapa tahun. Juga sering berkesempatan berdiskusi dengan banyak tokoh Muhammadiyah dari pusat sampai ranting walaupun saya yakin beliau beliau tidak mengenal saya, hal itu tidak penting yang penting bagi saya bisa mengambil ilmunya, semangat dan pengorbanannya dalam berjuang dan keikhlasan dalam beramal sholeh. Dari setitik pengetahuan dan pengalaman diatas dapat menjadi bahan dan bekal, cara saya dalam bermuhammadiyah menurut pemahaman dan kemampuan saya baik melalui tulisan, ucapan maupun aksi nyata.
Ada beberapa intisari yang saya pahami dan resapi dalam perjalanan hidup bermuhammadiyah saya antara lain ;

(1) ilmu dan teknologi yang up to date (mutakhir) harus dikuasai sebagai alat dalam memahami ajaran agama, berorganisasi dan berdakwah untuk memajukan umat dan bangsa,

(2) setiap aksi (prilaku) menekankan sampai pada level akhlak (spontan yang penuh pengorbanan), kemandirian dan kreatifitas dalam bertindak,

(3) setiap langkah dan perbuatan harus ikhlas hanya karena Allah SWT semata dengan berpedoman pada Al-Quran dan Hadist Shahih serta Ijtihad berjamaah (Majelis Tarjih),

(4) selalu berpikir dan berbicara kemajuan serta berbuat dan berjihad yang sifatnya prestasi jama’ah yang terukur, dimana tolak ukurnya adalah jumlah dan kuliatas AUM (amal usaha Muhammadiyah),

(5) setiap pengambilan kebijakan, keputusan dan pemecahan masalah organisasi melalui musyawarah mufakat,

(6) dalam berhubungan dengan pihak luar bersikap kritis dan kooperatif, dengan siapapun bisa dan selalu mengajak bekerjasama selagi untuk kemaslahatan bangsa, negara dan umat , seperti pemerintah atau umat beragama lainnya dan

(7) apa yang kita lakukan dan korbankan lewat persyarikatan hanya karena kita punya pamrih pribadi yaitu ingin dan sebagai wasilah meraih kejayaan setelah mati. Sehingga kata kata dan tulisan yang selalu saya ingat dan yakini serta yang saya senangi adalah ;
“ Maka dengan Muhammadiyah ini, mudah mudahan umat Islam dapatlah diantar ke pintu gerbang syurga ‘ Jannatun na’im ’ dengan keridhaan Allah Yang Rahman dan Rahim “
( Paragraf terakhir Muqaddimah AD Muhammadiyah).

Sehingga sangat sangat benar dan saya mengamini apa yang dikatakan senior saya di Ortom Kakanda Din Syamsudin yaitu Muhammadiyah tidak kenal lelah berkiprah , pada saat memberi sambutan pada pembukaan Muktamar Muhammadiyah 1 Abad.
Jadi menurut pemahaman saya, Berkiprah di Muhammadiyah tidak usah menunggu menjadi pimpinan persyarikatan ortom maupun AUM, berkiprah di Muhammadiyah tidak mengenal pensiun atau veteran , berkiprah di Muhammadiyah tidak mengenal mutung dan putus asa, berkiprah di Muhammadiyah tidak usah menunggu pintar kaya dan sempat, berkiprah di Muhammadiyah nilainya sama antara pusat dan ranting, berkiprah di Muhammadiyah derajatnya sama antara pimpinan dan anggota, berkiprah di Muhammadiyah antara wanita dan laki laki sama mulianya seperti duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, berkiprah di Muhammadiyah tidak mengenal jagoan tapi yang dikenal dan dikedepankan sistem jamaah dan musyawarah mufakat, berkiprah di Muhammadiyah yang di cari bukan ketenaran tapi kesungguhan dan keikhlasan, berkiprah di Muhammadiyah sama penting kedudukannya antara di persyarikatan Ortom dan AUM, berkiprah di Muhammadiyah selalu mengindahkan segala hukum undang undang peraturan serta dasar dan falsafah negara yang sah, berkiprah di Muhammadiyah setiap langkah bersifat keagamaan dan kemasyarakatan yaitu terwujudnya masyarakat (dunia) utama adil dan makmur yang diridloi Allah SWT, berkiprah di Muhammadiyah motivasinya bukan ingin menjadi pahlawan tetapi ingin mendapat ridlo dari Allah SWT orang orang beriman dan orang orang yang mempunyai nurani, berkiprah di Muhammadiyah supaya sukses dan berhasil merubah dan memajukan dunia (masyarakat) harus berittiba’ kepada langkah perjuangan Nabi Muhammad SAW.
Maka intinya kita berkiprah di Muhammadiyah bukan Muhammadiyah butuh kita tetapi sebaliknya kita yang membutuhkan Muhammadiyah, menjadikan Muhammadiyah sebagai media dan sarana untuk selalu beramal ikhlas secara berjamaah (terorganisir), sehingga mudah mudahan kita dalam keadaan husnul khotimah (akhir yang terbaik) ketika ruh kita di jemput oleh Malaikat Jibril dan besok di kehidupan setelah mati Allah SWT mengampuni segala dosa dan kesalahan kita serta Allah SWT ridlo terhadap apa telah kita kerjakan selama di alam usaha (kasab) yaitu di dunia. Dan kita menggapai kejayaan, kebahagian, kesenangan, ketentraman, keamanan, kesejahteraan dan kesuksesan abadi di SURGA.
Saya yakin dan percaya hal hal di atas yang menjadi motivasi para pendahulu kita sehingga Muhammadiyah seperti sekarang ini. Muhammadiyah besar dan kuat diawali dari diri kita sendiri, lalu di keluarga, kemudian berjamah berkelompok mendirikan AUM, terus ke desa, ke kecamatan, ke kabupaten, ke propinsi, nasional lalu dunia sebagai rahmatallil’alamin..…..
By Casroni Raska, alumni IMM dan IPM, sekarang menjabat sebagai sekretaris Majelis Pendidikan Kader (MPK) PDM Kabupaten Pemalang Jawa Tengah.
http://alumniamm.com

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: