Darah Segarnya Organisasi


“Iuran adalah darahnya organisasi yang siap maju dan menjadi besar”

I. Pendahuluan

Keuangan dalam organisasi gerakan dan juga Serikat Pekerja adalah salah satu unsur yang jadi ukuran apakah organisasi bisa terus berjalan dengan baik dan dinamis atau mati suri .Masalah keuangan adalah masalah politik, bukan masalah pembukuan semata. Tugas-tugas organisasi lahir dari perspektif gerakan dan rencana keuangan lahir dari tugas-tugas organisasi yang harus kita emban. Tidak peduli seberapa gemilang perspektif dan ide kita, bila kita tidak memiliki sumber daya untuk mempraktekkannya maka ide-ide yang paling hebatpun hanya akan jadi obrolan sambil lalu di warung kopi. Oleh karena itu, setiap organisasi gerakan massa yang progresif , baik itu partai politik maupun serikat buruh, harus mempunyai sikap yang serius terhadap masalah keuangan.

II. Makna iuran dalam gerakan

Dalam sejarah organisasi massa dan pergerakan Indonesia mempunyai tradisi keuangan yang kuat. Kita bisa lihat bagaimana partai massa buruh dan organ-organnya di Indonesia sebelum 1965 bisa memiliki aparatus yang kuat (kantor-kantor, koran, percetakan, dll.) dengan hanya mengandalkan iuran-iuran dari anggotanya yang notabene kaum buruh dan petani miskin. Setelah lebih dari 30 tahun di bawah rejim Soeharto yang dengan sengaja menghancurkan semua organisasi massa di Indonesia beserta tradisi-tradisinya, pergerakan Indonesia kehilangan tradisi ini.
Ini diperparah oleh hegemoni individualisme borjuis yang semakin mapan di Indonesia dan kehadiran LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) plat merah bikinan pemerintah atau Organisasi Non Pemerintah (Ornop) yang “membanjiri” gerakan dengan uang-uang mereka. Organisasi progresif yang bertujuan membebaskan kaum buruh mengandalkan keuangannya dari kelas /kelompok yang dibelanya .
LSM masuk ke Indonesia sebagai “kendaraan sosial” yang diijinkan oleh rejim orde baru , dan ini menyediakan ruang bagi gerakan politik. Dana-dana LSM pun mendominasi gerakan buruh, sebab ada larangan pembentukan serikat buruh independen pada saat itu. Dengan dananya yang berlimpah, LSM perburuhan membanjiri gerakan dengan uangnya dan de facto menjadi tulang punggung keuangan gerakan.Mereka adalah institusi borjuis yang berusaha meringankan efek-efek jahat dari sistem mereka sendiri, yang mereka takuti akan menggerogoti sistem mereka dari dalam.Penekanannya adalah “meringankan” dan bukannya menghapus efek-efek jahat dari kapitalisme, karena yang belakangan ini membutuhkan penumbangan sistem itu sendiri. Inilah basis sosial dari LSM .
Gerakan dan LSM itu seringlah berbenturan, karena yang pertama gerakan bermaksud membawa pembebasan umat manusia dari kapitalisme sedangkan LSM hanya ingin meringankan kesengsaraan manusia dalam batas-batas kapitalisme. Sayangnya, justru gerakan-gerakan Indonesia banyak yang terkooptasi oleh LSM karena mengandalkan dana-dana bantuan LSM luar negeri . Walaupun secara sekilas dana-dana LSM tersebut tampak tidak berbahaya, tetapi keterikatan keuangan ini membuat gerakan menjadi tergantung pada LSM pendonor dan pada akhirnya terpaksa secara sadar maupun tidak, mengadopsi garis kebijakan dan kemauan LSM pendonor
Kooptasi gerakan Indonesia oleh garis kebijakan LSM pendonor sudah menjadi kenyataan di dalam gerakan di Indonesia, dan juga di dalam gerakan buruh. Oleh karena itu, metode ketergantungan keuangan terhadap LSM pendonor haruslah segera dicabut sampai ke akar-akarnya dan “tradisi keuangan yang mandiri” harus dihidupkan di dalam organisasi-organisasi gerakan terutama gerakan buruh di Indonesia

III. Membangun Kembali Tradisi Keuangan Mandiri

Tidak ada alasan sebenarnya untuk tetap bergantung pada dana-dana LSM (atau donatur-donatur kaya). Alasan-alasan bahwa kaum buruh dan serikat pekerja Indonesia terlalu miskin untuk mendanai organisasinya sendiri adalah konyol dan sangat tidak beralasan .Yang diperlukan adalah menanamkan kembali tradisi keuangan mandiri ke dalam gerakan Indonesia. Ini bukan pekerjaan yang mudah, tetapi tidak ada yang mudah di dalam gerakan. Satu organisasi progresif dan siap menjadi besar sejak masa embrionya harus ditempa dengan ide, perspektif, metode, dan tradisi yang tepat. Hanya dengan ini maka aparatus organisasi tersebut dapat berdiri dengan kokoh.Keuangan organisasi selalu menjadi bagian yang penting dan integral dalam perjuangan kelas pekerja. Semaoen dalam bukunya “Penuntun Kaum Buruh” yang ditulisnya pada tahun 1920 mendedikasikan satu bab penuh untuk masalah keuangan serikat buruh:” … gerakan kaum buruh mempunyai maksud yang sangat besar dan untuk semua perkara yang berkaitan dengan organisasi, kongres, penerbitan majalah, dan sebagainya, kaum buruh perlu mengumpulkan harta, modal, atau uang. Untuk pengadaan modal itu maka anggota-anggota harus membayar iuran … Berani membayar iuran yang besar berarti berani untuk memerdekakan kaum buruh.”
Pengorganisasian koleksi-koleksi dana ( dana tambahan ) dan kontribusi reguler (iuran) ini harus dilakukan secara politik dan terus menerus , yakni dengan agitasi dan propaganda politik guna mendidik kaum buruh.Sejatinya kaum buruh bisa menunjukkan ideologi kolektivis mereka dalam perjuangan khususnya dalam aksi massa dan relly serta aksi solidaritas . Ideologi kolektivis buruh ini bukanlah sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit , kaum buruh dilempar ke dalam gedung-gedung pabrik dalam jumlah ribuan, berdesakan dengan kondisi kerja yang tidak manusiawi, dan di dalam kondisi inilah mereka merelasi kaum buruh dengan hasil produknya juga memberi mereka satu basis kolektivisme. Tidak ada satu buruh pun yang bisa mengatakan, “Saya sendirilah yang memproduksi barang tersebut (meja, kursi, komputer, mobil, TV, dll).” itulah contoh bentuk kebersamaan atau bentuk solidaritas.
Ideologi kolektivisme kaum buruh harus dipupuk dan dibangun secara sadar oleh buruh sendiri. Satu metode untuk membangun solidaritas nyata ini adalah dengan koleksi-koleksi dana ( dana tambahan ) dan iuran kaum buruh untuk organisasi mereka. Kaum buruh membentuk dan memperkuat ikatan dengan rekan-rekan dan organisasinya melalui pengorbanan yang dia dedikasikan untuk perjuangan kelasnya. Selain keringat ,tenaga dan fikirn , buruh juga secara kolektif memberikan iuran dan koleksi dana untuk memperkuat organisasi, gerakan dan aktivitas dari serikat buruh mereka.
Pendekatan terhadap keuangan organisasi yang disiplin dapat membangun ikatan solidaritas kaum buruh, dan memperkuat kesadaran kaum buruh sebagai satu kelas. Sekali lagi, masalah keuangan adalah masalah politik, dan bukan semata-mata masalah pembukuan.Sangatlah salah bila dana dan iuran yang dikumpulkan anggota hanya didiamkan saja dalam kas organisasi dan tidak didistribusikan pada bentuk kegiatan dan aktivitas organisasi apalagi kesalahan yang paling fatal bila dana yang ada dijadikan alat usaha atau simpan pinjam .Serikat pekerja adalah gerakan bukan organisasi ekonomi seperti koperasi jadi ukurannya bukan besar kecilnya “saldo bulanan’ tapi sedikit banyaknnya aktivitas dan kegiatan apalagi kegiatan yang bersifat kolektivitas dan upaya meLawan penindasan atas kaum buruh dan upaya mewujudkan keadilan sosial .

IV. Iuran Anggota dan Koleksi Dana

Iuran anggota bukanlah hanya sebuah formalitas tanda keanggotaan seorang buruh pada sebuah organisasi. Iuran adalah satu bentuk kesetiaan dan dedikasi politik, ia adalah alat pengukur politik dan loyalitanya pada organisasi . Pengumpulan iuran tidak boleh menjadi rutinitas belaka tetapi harus selalu dilakukan secara politis. Pada setiap langkah harus dijelaskan tujuan–tujuan stategis di belakang pengumpulan iuran. Bukan pengumpulan iuran terlebih dulu lantas tujuan-tujuan strategis dari organisasi ditentukan, tapi justru sebaliknya. Garis-garis kebijakan serikat pekerja menentukan tugas-tugas organisasi, lalu menentukan target-target keuangan untuk memenuhi tugas-tugas tersebut.
Dari sejak awal pembentukan sebuah organisasi, tradisi iuran harus menjadi prioritas utama. Ia harus menjadi satu disiplin yang merefleksikan disiplin buruh. Lebih baik iuran berjumlah kecil tetapi dibayar secara reguler dan disertai dengan pemahaman yang kuat akan arti penting iuran tersebut. Sudah sering kita jumpai serikat-serikat buruh yang mengumpulkan iuran anggota dengan rutinitas hampa tanpa isi politik—terutama serikat-serikat buruh di negara maju di mana iuran langsung secara otomatis dipotong dari gaji sang buruh—dan tidak mengherankan bila cukup banyak buruh di dalam serikat-serikat buruh itu yang tidak mengerti mengapa mereka harus membayar iuran, lantas mengeluhkan itu sebagai beban.
Pengumpulan dana yang sifatnya tidak reguler juga harus diorganisasi di lingkungan buruh dan pabrik-pabrik. Kemampuan mengumpulkan sumbangan dari buruh akan menjadi satu alat ukur dari pengaruh organisasi tersebut di antara kaum buruh. Namun kita tidak boleh jatuh ke dalam oportunisme dalam usaha kita untuk mengumpulkan sumbangan dari kaum buruh. Kesabaran, keuletan, dan keteguhan dalam prinsip harus dijaga. Tidak ada jalan pintas yang bisa kita ambil, yang ada hanyalah jalan pintas ke jurang.
Karenanya posisi bendahara di dalam sebuah organisasi serikat pekerja adalah sebuah posisi politik. Ini bukan sebuah posisi yang bisa diisi begitu saja oleh seorang akuntan atau birokrat. Seorang bendahara bukan hanya harus memiliki disiplin yang tinggi dan pendekatan profesional dalam keuangan, tetapi juga pemahaman kebijakan organisasi akan tugasnya, kemampuan untuk menerjemahkan tugas-tugas kebijakan gerakan ke target-target keuangan dalam setiap sendi organisasi.

V. Semangat Juang melakukan Pembebasan

Salah satu Tugas besar yang harus diemban oleh kelas pekerja Indonesia untuk mengembalikan tradisi organisasinya, bukan hanya dalam aspek keuangan saja.
“Kita harus mendidik kaum muda kita untuk lebih memiliki sebuah semangat pengorbanan .Tidak ada penyelamat dari langit dan kaum buruh janganlah pernah percaya pada kstaria atau pangeran. Hanya dengan tangan kanan kita sendiri akan kita patahkan rantai ini, rantai kebencian, ketamakan, dan rasa takut.Ideologi kolektivitas dan keuangan yang kuat adalah modal dasar bagi gerakan serikat yang siap maju dan menjadi besar .Tugas tugas kaum buruh adalah melakukan pembebasan atas ketertindasan yang diciptakan oleh kaum kapitalis yang makin rakus dan terus melakukan penjajahan fisik dan ekonomi ,sehingga kaum buruh walau sudah bekerja puluhan tahun masih tetap miskin dan menderita .Cita cita kesejahteraan janganlah pernah padam hanya karena ada kegagalan tapi semangat juang yang harus terus ditingkatkan .Jangan pernah meragukan lagi iuran dan dana dana yang sudah ditetapkan organisasi bahwa sejatinya dana dan iuran tersebut akan menjadikan organisasi makin besar kuat dan terhormat apalagi ditambah semangat juang yang tidak pernah lelah sampai didapat kan kesejahteran bersama bagi kaum buruh dan keluarganya .Wallahualam

” Rukun dan Bersatulah kaum Buruh agar Serikat Kuat dan Buruh Sejahera ”
by :Roni Febrianto on milist fspmi
PP SPEE FSPMI Bid Infokom
Jl Raya Pondok Gede no 11 Kp Dukuh ,Jakarta Timur.
PUK SPEE FSPMI PT PSECI ( Ketua )
Kawasan Industri MM 2100 Blok O-1 Cikarang Barat Bekasi ,Jawa Barat.
Telp 062218061278.
Sumber WWW.antara.co.id

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: