ITAKONA AND MANAGEMENT WISDOM


ITAKONA METHOD & MANAGEMENT BY COLLECTIVE WISDOM”

Dalam pengumuman policy 2009 oleh Management pusat Panasonic Corporation Jepang (sebelumnya Matshusita Electric) pada tanggal 10 Januari 2009 di Osaka, Jepang banyak hal penting yang disampaikan, baik oleh Fumio Ohtsubo  sebagai President, Kunio Nakamura sebagai Chairman of The Board dan juga oleh Yoshida sebagai wakil dari karyawan.

 Detail penyampaian oleh  Mr. Ohtsubo bisa dilihat di website resmi Panasonic Corporation (http://panasonic.net), namun dalam kesempatan ini saya hanya ingin menyampaikan dan mengulas 2 poin saja, yang mungkin bisa dijadikan satu masukan atau pembahasan  kita bersama yaitu :

  1. ITAKONA METHOD
  2. MANAGEMENT BY COLLECTIVE WISDOM

 Hal ini saya sampaikan karena dalam kondisi bisnis global yang sedang tidak menentu dalam kurun waktu beberapa bulan ini dan mungkin masih akan berkembang ditahun 2009, dibutuhkan satu ‘ketegaran’ dan ‘lompatan’ dalam cara berpikir dan bekerja yang lebih efficient , effective dan innovative sehingga kita bisa survive / bertahan dalam menghadapi tantangan badai yang sedang menghadang, karena perusahaan-perusahaan raksasapun pada kenyataannya juga terkena imbasnya. GENERAL MOTOR dan AIG keteteran dalam bisnisnya, SONY dan SAMSUNG juga mengumumkan kerugian dalam perhitungan laba rugi tahun fiskal 2008 dan sepertinya PANASONIC (secara global) sendiripun masih belum bisa memastikan bisa membukukan profit di tahun 2008/2009.

 Melihat kondisi yang sedemikian ‘mencemaskan’ inilah saya coba membuat satu masukan buat kita semua dan juga pengalaman sejarah 1997 yang lalu, bahwa kita (PGI) masih bisa bertahan, yang mungkin bisa dijadikan satu acuan dalam berkarya yang lebih innovative di tahun 2009 ini.

 ITAKONA METHOD

 Seperti yang disampaikan oleh Mr. Othsubo dalam pidatonya perihal orientasi produksi (Manufacturing-oriented) dan lebih lanjut dalam pengetatan biaya yang kompetitif (strengthening cost competitive) agar supaya semua orang Panasonic dalam menjalankan semua aktivitasnya tidak terkecuali staff maupun pimpinan harus mengaplikasikan ITAKONA.

 Sekarang kita jabarkan apa itu “Itakona”. Itakona merupakan bahasa Jepang yang sebenarnya terdiri dari dua kata yaitu ITA yang berarti piring / pelat (plate-Inggris) dan KONA yang berarti bedak / bubuk (powders-Inggris).

 Itakona dapat diartikan menganalisa biaya (cost) secara detail dalam rangka memusatkan penurunan biaya (cost reduction) secara luas.

 Didalam pabrikan (manufacture) ITAKONA ini dapat dimaksudkan bahwa cost-down dalam pembuatan product lebih fokus pada bahan-bahan baku yang berasal dari pelat (besi) dan bubuk plastik, baik secara jumlah maupun bentuk sehingga diharapkan bisa menurunkan biaya produksinya.

 Didalam memproduksi suatu produk, pertama yang harus dilakukan adalah menganalisa atau membuat detail materialnya (cost), kemudian dipilah item mana saja yang terbuat dari besi dan plastik, baru diputuskan item mana saja yang bisa dikurangi bahkan dihilangkan akan tetapi tidak mengurangi fungsinya.

 Sebagai contoh dalam membuat remote AC, seperti yang kita lihat, bahwa dulu dibutuhkan baut besi sampai dengan 4 buah, dalam perkembangannya dikurangi hingga tinggal 2 buah dan bahkan dihilangkan bautnya karena dirasa cukup dengan model jepit di covernya. Dari bentuk, yang dulunya besar sehingga butuh bahan yang lebih banyak, sekarang ini lebih kecil dan tentunya bahannyapun lebih sedikit, tapi tetap bisa digunakan sesuai fungsinya yaitu sebagai remote control. Itulah maksud Itakona dalam pabrikan atau manufacture, sehingga dapat diperoleh harga yang kompetitif.

 Tentunya akan berbeda penterjemahannya apabila diterapkan di bagian-bagian selain produksi. Sesuai maknanya yaitu analisa biaya secara detail, semua biaya yang timbul baik itu biaya penjualan, biaya administrasi dan biaya-biaya lainnya harus lebih fokus dianalisa sampai ke detail itemnya, sehingga bisa ditemukan apakah masih bisa dilakukan pengurangan (reducing) sehingga diperoleh biaya yang efesien dan efective (theoritical cost).

 Dalam penerapannya Mr. Ohtsubo menyampaikan agar dilakukan dengan kebijaksanaan secara bersama (collective wisdom), agar tidak melebihi batas-batas fungsi pekerjaannya dan akan selalu bekerja sama untuk mencapai satu teori biaya yang terdekat.

 Mr. Ohtsubo juga menambahkan bahwa dalam berbisnis baik pimpinan tertinggi sampai dengan karyawan harus mengunjungi, melihat dan menempatkan diri diposisi terdepan dan mendengarkan suara pekerja ditempatnya.

  ”The company will make use of the collective wisdom beyond borders across job functions, and will work together to get closer to attainable theoretical costs. All Panasonic people, from the top to the employees should visit, see and put themselves in the front line of business and listen to the workers on-site.”

 COLLECTIVE WISDOM

 Didalam arti kata collective wisdom bisa diartikan sebagai kebijaksanaan secara bersama-sama, namun didalam ilmu manajemen, collective wisdom mempunyai arti yang sangat mendalam dan tinggi nilainya.  Bahkan seorang Professor didalam Managemen Strategis dari London South Bank University, Dr. Bruce Lloyd menyampaikan bahwa “kebijaksanaan  sangat dipertimbangkan menjadi bentuk tertinggi dari pengetahuan – Wisdom is considered to be the highest form of knowledge”.

Apabila dilihat dari urutannya adalah :

DATA – INFORMASI – PENGETAHUAN (KNOWLEDGE) – KEBIJAKSANAAN (WISDOM).

 Kebijaksanaan tidak bisa dipelajari secara terstruktur seperti kita sekolah atau kursus, akan tetapi kebijaksanaan didapat dari pembelajaran secara terus menerus dari sejarah yang telah lalu sehingga kita dapat melakukan tindakan yang tepat untuk menghasilkan solusi terbaik bagi semua pihak terkait untuk waktu yang lebih panjang.

 Kebijaksanaan bisa juga diartikan sebagai kendaraan bagi kita untuk menyatukan nilai-nilai yang ada di dalam proses pengambilan keputusan.

Untuk bisa lebih memahami arti kata bijaksana (wisdom) mungkin bisa dibaca dari beberapa pernyataan sebagai berikut :

“Data is not information. Information is not knowledge. Knowledge is not understanding. Understanding is not Wisdom.” (Anon)

“ The Function of Wisdom is to discriminate between good and evil”
(Marcus Tullius Cicero)

“Wisdom is the right use of knowledge. To know is not to be wise. Many people know a great deal, and are all the greater fools for it. There is no fool so great a fool as a knowing fool. But to know how to use knowledge is to have wisdom.”
(Charles H. Spurgeon)

“Wisdom is the power that enables us to use our knowledge for the benefit of ourselves and others.”(Thomas J. Watson)

“The more knowledge we have the more wisdom we need to ensure that it is used well.”
(Anon)

“Those who are arrogant with their wisdom are not wise.” (Anon)

Atau bisa dibaca dalam tulisan detailnya di :

http://www.collectivewisdominitiative.org/papers/lloyd_wisdom.htm

Marcus Goncalves seorang pendiri dan presiden dari Marcus Goncalves Consultant yang bermarkas di Metrowest Boston menyatakan :

 Collective Wisdom bisa dijadikan sebagai alat yang sangat effective dalam memecahkan masalah berkurangnya pengetahuan (knowledge deficit) atau kurang dimanfaatkannya pengetahuan yang dimiliki organisasi. Tidak melihat bahwa anda adalah organisasi yang kecil, sedang ataupun besar, jika tidak bisa memanfaatkan secara maksimal dan bersama-sama pengetahuan yang dimiliki oleh organisasi tersebut, anda mungkin akan kehilangan kesempatan pendapatan yang cukup besar. Dalam studi yang dilakukan oleh Delphi Group, baru kurang lebih 20% dari pengetahuan yang dimiliki perusahaan-perusahaan yang secara actual dipakai.

 Didalam beberapa studi untuk meningkatkan nilai-nilai pengetahuan yang menurun dibutuhkan suatu bentuk pertemuan / rapat yang strategis (meeting strategy) atau sesi-sesi pencerahan (brainstorming session) ysng lebih intensif, dimana semua anggota organisasi / karyawan bisa dengan bebas menyampaikan ide-ide cemerlang mereka untuk mengatasi kondisi yang sedang dihadapi.

Bentuk rapat-rapat (meeting) yang effective inilah yang bisa dijadikan alat paling jitu dalam penerapan strategi collective wisdom, sehingga bisa mengisi kekurangan pengetahuan dari organisasi. Meeting yang dilakukan bisa dibuat dalam bentuk yang lebih specifik seperti pemberdayaan karyawan, membuat konsep-konsep baru didalam product dan service, strategi penjualan yang jitu, penurunan biaya (cost down)  dan lain-lain.

 Ide utamanya adalah menjadikan pengetahuan bersama (collective knowledge) yang dimiliki oleh semua anggota organisasi menjadi satu kesatuan memori dan dijadikan sebagai harta / asset dari organisasi / perusahaan yang akan selalu dibawa dan dijaga. Sangat disayangkan dan kadang tidak disadari oleh perusahaan (manajemen) bahwa kebanyakan isi pengetahuan yang dimiliki seringkali hilang begitu saja saat karyawan keluar  (resigned) walau kadang sudah disimpan tetap akan membentuk satu penurunan dalam pengetahuan organisasi.

 Perlu ditambahkan bahwa sebagus apapun perencanaan dan strategi meeting yang dimiliki, belum bisa menjawab penerapan managemen dengan collective wisdom apabila belum bisa memecahkan isu-isu didalam komunikasi seperti :

  • Komitmen dari manajemen dalam membentuk satu komunikasi dalam perubahan (yang membentuk jurang pemisah) dan inovasi (sebagai jembatan penghubung).
  • Komunikasi yang effective dalam kebijaksanaan bersama (collective wisdom) diantara direksi, manager, staff dan semua anggota organisasi sebagai satu kesatuan yang utuh.
  • Membentuk satu komunikasi collective wisdom untuk internal dan external customer.

 KESIMPULAN

 Dari apa yang telah saya paparkan diatas, saya mencoba menyimpulkan sebagai implementasi kebijakan yang telah disampaikan oleh Mr. Fumio Ohtsubo sebagai President Panasonic Corporation dan tak lupa motivasi pantang menyerah dan jangan banyak mengeluh dalam menghadapi tantangan yang selalu disampaikan oleh Bapak Rahmat Gobel sebagai Presiden Komisaris dari PT. Panasonic Gobel Indonesia (PGI), bahwa kita sebagai karyawan PT. PGI khususnya dan juga anggota dari Panasonic Corporation :

  • Menerapkan Itakona sebagai satu cara untuk menjawab krisis global yang sedang dihadapi, sehingga kita bisa bekerja lebih effective dan efficient.
  • Collective Wisdom sebagai satu wacana baru bagi kita semua untuk menyampaikan ide-ide gemilang untuk menjawab tantangan dan memposisikan kita sebagai asset dari perusahaan.

 Demikian apa yang bisa saya sampaikan sebagai bahan sharing / masukan bagi kita semua, bahwa kondisi sekarang harus kita jawab dengan satu motivasi yang tinggi dan melihat pengalaman yang lalu bahwa kita bisa dan mampu untuk melewatinya.  

(Sumber :asafrisno.wordpress)

About Abing Manohara
Hi...Assalamu 'alaikum...I like to write, sharing kindliness and science, tips and solution. Hopefully with this blog many charitable and benefit which I can do for the others people. Solidarity forever....

Leave Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: